Cerita Karst di Bandung Barat; Asal – Usul Orang Bandung, Amukan Sangkuriang, dan Potensi Hilangnya Tempat Bermain Para Pemanjat.

IMG_8292

Saguling, sisa – sisa jejak Cekungan Bandung

Pernah mendengar nama Karst Rajamandala?, atau Goa Pawon?, atau mungkin Pasir Karangpenganten?, yang terakhir disebut pernah juga muncul di Novel Bilangan Fu karya Ayu Utami. Ya, nama – nama tadi adalah identitas yang melekat pada suatu kawasan perbukitan kapur di Kecamatan Cipatat dan kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Untuk pegiat olahraga panjat tebing atau mereka yang bergelut dibidang keilmuan Geologi mungkin sudah tidak asing lagi mendengar nama – nama tersebut, karena ini merupakan tempat berlatih sekaligus laboratorium alam yang boleh dibilang wajib dikunjungi. Kawasan ini adalah kawasan perbukitan Karst atau perbukitan kapur yang membentang di Barat Bandung. Dan kawasan ini menyimpan catatan sejarah yang begitu lekat dengan orang Bandung atau orang sunda pada umumnya.

IMG_8294

Persawahan di Sekitar Karst Rajamandala

Di kawasan Karst Rajamandala ini terdapat Goa Pawon yang mana didalamnya pernah ditemukan fosil manusia purba yang diyakini merupakan nenek moyang orang Bandung. Hal ini sangat mungkin terjadi karena memang menurut sejarah geologinya Bandung dahulu merupakan cekungan yang terendam air seperti danau sehingga tidak memungkinkan manusia untuk tinggal disana.

IMG_8404

Pasir Hawu

Letak kawasan Karst Rajamandala yang lebih tinggi dari wilayah Bandung yang kemudian menjadi dasar bahwa mungkin saja dahulu saat Bandung masih tergenang air manusia purba tinggal dan hidup di kawasan Karst Rajamandala ini. Manusia – manusia purba tersebut kemudian berkembangbiak di sekitar kawasan Rajamandala dan setelah air dicekungan Bandung surut barulah mereka berpindah. Dan penelitian mengenai hal ini masih berlanjut hingga kini.

IMG_8214

Pasir Karangpenganten

Selain cerita diatas, karst Rajamandala juga menyimpan cerita terkait toponimi atau penamaan tempat – tempat disekitarnya. Disini terdapat beberapa Pasir atau bukit – bukit kapur yaitu : Pasir Pawon(lokasi Goa Pawon), Pasir Hawu, Pasir Pabeasan, Pasir Kancahnangkub, Pasir Manik, dan Pasir Karangpenganten; yang penamaannya terkait dengan legenda Sangkuriang dan Gunung Tangkuban Perahu. Alkisah, setelah tahu usahanya membuatkan perahu untuk bisa menikahi pujaan hatinya Dayang Sumbi, gagal, Sangkuriang lalu mengamuk sejadi – jadinya. Ditendangnya perahu yang menjadi syarat untuk Dayang Sumbi yang kemudian berubah menjadi Gunung Tangkuban Perahu.

IMG_8213

Pasir Manik (tebing 49 kopasus)

Tak hanya itu, Sangkuriang juga menendang segala keperluan pernikahannya yang telah disiapkan untuk mempersunting Dayang Sumbi. Ditendangnya Dapur (Pawon), Tungku Perapian atau Kompor (Hawu), Tempat Beras (Pabeasan), Panci yang terbalik (Kancahnangkub), Perhiasan – Perhiasan (Manik), dan Pelaminan (Karangpenganten). Segala keperluan pernikahan Sangkuriang ini pun kemudian bernasib mirip seperti gunung Tangkuban Perahu, menjadi bukit – bukit di kawasan Karst Rajamandala.

IMG_8394

Aktifitas Penambangan Kapur Karst Rajamandala

Namun, keberadaan dan kelestarian Karst Rajamandala kini sudah sangat terancam oleh aktifitas penambangan kapur disekitarnya. Banyak bukit disini kini telah habis digerus. Beberapa yang masih bertahan adalah Pasir Pawon karena memang masuk kawasan perlindungan dan penelitian yang mana pernah ditemukan fosil manusia purba tadi, Pasir Manik atau yang lebih dikenal oleh pemanjat sebagai tebing 49 yang merupakan tempat latihan Kopasus, dan Pasir Pabeasan atau yang lebih dikenal oleh pemanjat sebagai tebing 125 yang saat ini dikelola oleh pemuda dan warga sekitar sebagai tempat berlatih pemanjat – pemanjat tebing dari berbagai daerah. Untuk yang terakhir disebut keberadaannya juga sudah sangat terancam. Pengusaha tambang kapur sudah siap menggerus Pasir Pabeasan ini kapan saja. Sangat disayangkan jika nantinya keberadaan Karst Rajamandala ini benar – benar musnah karena penambangan. Generasi selanjutnya akan kehilangan tempat bermain dan tempat mengembangkan diri khususnya di bidang panjat tebing, dan cerita – cerita diatas hanya akan berakhir menjadi mitos.

Jika nanti benar terjadi seperti itu, akankah Sangkuriang kembali mengamuk?

Iklan
Categories: tulislepasbebas | Tag: , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: