Pulau Ndana, dan Hilangnya Penduduk Disana.

VLUU L100, M100  / Samsung L100, M100

Sisi Timur Pulau Ndana

Pulau Ndana adalah pulau paling selatan dari NKRI. Lokasinya berada disebelah selatan pulau Rote. Jika kita sering mendengar lirik lagu, “dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai pulau Rote” dan mengganggap pulau Rote adalah pulau paling selatan negeri ini, maka itu perlu dikoreksi. Sejatinya pulau Ndana inilah yang menjadi pulau terdepan dan merupakan lokasi tapal batas paling selatan NKRI. Berada di koordinat 10°58’56” LS dan 122°51’49” BT, pulau ini dapat dijangkau melalui kota Kupang lalu dilanjutkan menuju pulau Rote (via laut atau udara) untuk kemudian dari Rote dilanjutkan kembali menggunakan jalur laut menuju pulau ini.

Pulau ini adalah pulau kosong tak berpenduduk yang saat ini hanya diisi oleh TNI sebagai penjaga perbatasan dan Rusa – Rusa rote yang keberadaannya dilindungi. Ditengah – tengah pulau kita juga dapat menjumpai danau air tawar yang berwarna merah yang menjadi keunikan tersendiri dari pulau ini. Namun, ada cerita berbeda mengenai pulau Ndana di masa lampau yang konon sempat juga menjadi tempat bermukim.

Alkisah, di Rote dahulu terdapat 3 kerajaan yang menguasai beberapa wilayah disana. Kerajaan – kerajaan itu adalah Kerajaan Thie, Kerajaan Termanu, dan Kerajaan Ba’a. Kerajaan Thie letaknya dekat dengan pulau Ndana yang meskipun demikian pulau Ndana ini tidak masuk wilayah kerajaan Thie melainkan memiliki sistem pemerintahannya sendiri. Konon pulau Ndana dahulu tidak dihuni oleh orang – orang asli Rote melainkan oleh pendatang yang diduga adalah orang – orang keturunan bugis yang mengembara ke seantero nusantara. Meskipun pulau kecil, Ndana menyimpan potensi berupa sumber air tawar, hutan di tengah pulau nya, dan rusa – rusa yang dahulu masih banyak sehingga memungkinkan manusia untuk menetap dan bermukim disana.

Pada suatu waktu, ada nelayan dari pulau Rote tepatnya penduduk dari kerajaan Thie yang singgah dipulau Ndana setelah mencari ikan. Ketika itu penduduk pulau Ndana sedang melakukan pesta perayaan. Sang Nelayan pun menghampiri keramaian tersebut dan melihat seorang gadis cantik ditengah pesta itu. Tertarik dengan si gadis, sang Nelayan pun menggodanya. Mengetahui hal itu, penduduk pulau Ndana pun marah kepada sang Nelayan, tanpa permisi masuk ke wilayah mereka lalu menggoda gadis disana. Akhirnya sang Nelayan dibunuh oleh penduduk pulau Ndana.

Disisi lain, ternyata sang Nelayan ini punya anak istri di pulau Rote yang selalu menanti kepulangannya. Sang Anak tak hentinya bertanya kepada sang Ibu dimana rimbanya sang Ayah hingga tak kembali – kembali juga. Ditanya seperti itu sang Ibu selalu hanya bisa menjawab “di laut” sambil menunjuk kearah dimana pulau Ndana berada.

Waktu pun berlalu, sang Anak beranjak dewasa dan tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa. Bersamaan dengan itu, Kerajaan Thie yang dipimpin oleh Raja Messakh akan melakukan sebuah perayaan dan mengundang semua orang baik itu dari Kerajaan Termanu, Ba’a, dan pulau – pulau kecil disekitarnya tak terkecuali penduduk dari pulau Ndana. Ketika pesta berlangsung semua orang berkumpul dan bergembira. Ditengah kegembiraan sang Anak melihat ada satu orang yang mengenakan sabuk yang ia yakini sebagai sabuk ayahnya yang telah lama tak pulang – pulang. Setelah segala perasaan berkecamuk, sang Anak pun menginterogasi orang yang mengenakan sabuk kulit kerbau itu, ia menjamin keselamatan orang yang mengenakan sabuk itu beserta seluruh keluarganya dengan syarat mau menceritakan segala kejadian agar jelas dan sang Anak tahu bagaimana nasib ayahnya sekarang.

Setelah cerita yang mengalir deras, orang yang memakai sabuk kulit kerbau itu pun dilepaskan oleh sang Anak kembali ke pulau Ndana. Namun tak sampai disitu, dendam kini berkecamuk di dalam hati sang Anak, darahnya terasa bergolak setelah mendengar cerita ayahnya yang telah mati dibunuh. Dipersiapkannya senjata untuk meledakkan dendamnya. Ia kemudian menyebrang ke pulau Ndana dengan membawa 2 ekor kerbau. Diikatnya 2 ekor kerbau tersebut di dekat danau ditengah pulau untuk menarik perhatian penduduk pulau Ndana agar menghampiri. Ia pun bersembunyi disekitarnya sambil bersiap menebas kepala siapa saja yang datang mendekat. Dan benar saja, strategi kerbau ini ternyata jitu, penduduk datang satu persatu untuk melihat kerbau karena memang mereka tidak pernah melihat ada kerbau disekitar danau sebelumnya. Sang Anak pun berhasil melampiaskan dendamnya, setiap ada yang datang ia habisi dan mayatnya ia buang kedalam danau hingga warna danau pun berubah menjadi merah darah berisi mayat semua penduduk di pulau Ndana. Danau ini kemudian sekarang dikenal dengan sebutan danau Merah atau Dano Oehenda.

Pada pembantaian itu hanya ada 7 orang yang selamat dan lolos dari incaran sang Anak, mereka adalah si pemakai sabuk kulit kerbau beserta keluarganya. Konon ketika kejadian mereka bersembunyi dibawah pohon beringin. Ketujuh orang ini pun mengungsi dan mencari suaka ke Rote dan kemudian diterima oleh raja Messakh dari kerajaan Thie hingga akhirnya diangkat  menjadi keluarga oleh raja dengan sebutan keluarga Nutu Hitu yang berarti 7 beringin.

Setelah 7 orang Nutu Hitu tadi hijrah ke Rote jadilah pulau Ndana tak mempunyai penghuni tetap hingga sekarang.

Iklan
Categories: tulislepasbebas | Tag: , , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: