Agats, Kota Kutukan, Kota Diatas Papan, yang Bebas Polusi…..dan Polisi(?)

Dermaga Kota Agats (photo credit : Liberty Krisman)

Dermaga Kota Agats
(photo credit : Liberty Krisman)

“Selamat Datang di Agats”, terus terang saya mencari tulisan itu sesampainya di kota ini. Entah, mungkin juga karena saya kurang teliti makanya saya tidak berhasil menemukannya. Lalu sebagai ganti tulisan “Selamat Datang”, Agats menyuguhi saya deretan balok-balok papan yang disusun rapi secara Horizontal yang difungsikan sebagai jalan. Yak! Ini lah Agats, kota diatas papan.

Landmark kota Agats (photo credit : Dandy)

Landmark kota Agats
(photo credit : Dandy)

Bukan tanpa alasan kota ini mendapat julukan seperti itu. Dahulu kala, Kota yang menjadi ibukota Kabupaten Asmat ini merupakan kota normal seperti pada umumnya, berdiri diatas tanah, rumah-rumah dan jalan pun dibangun diatas tanah. Sampai kemudian disekitar tahun 1900an, datanglah misionaris katolik dari Belanda ke Kota ini untuk menyebarkan agama dan mendidik masyarakat disana. Sebelumnya, tidak ada yang berani melakukan hal itu terkait praktek – praktek kanibalisme yang masih sering dilakukan oleh orang Asmat ketika itu.

Patung Pastor Jan Smith (photo credit : Dandy)

Patung Pastor Jan Smith
(photo credit : Dandy)

Adalah Pastor Jan Smith yang punya nyali besar dan keinginan luhur yang kemudian melakukan misi tersebut. Seiring Pastor Jan Smith menjalankan misinya, perubahan peradaban dan kebudayaan pun terjadi di kota ini, hingga sebuah peristiwa menimpa Pastor Jan Smith, ia dibunuh. Pembunuhan ini diduga masih terkait dengan praktek pengayau (kanibalisme) orang Asmat. Dan sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir sang Pastor sempat berucap, “setelah kematianku, tidak akan pernah kota Agats ini mengering, air mata akan terus membasahi dan menggenanginya”.

Jalan di Kota Agats (photo credit : Dandy)

Jalan di Kota Agats
(photo credit : Dandy)

Ucapan inilah yang kemudian dipercaya sebagai kutukan dan menjadi legenda masyarakat Agats hingga kini. Dan konon kutukan itu pulalah yang menyebabkan Agats sekarang ini berdiri diatas rawa, yang menyebabkan semua bangunan dan jalannya dibangun diatas air rawa ditopang kayu dan papan sebagai landasannya.

Keunikan lain kota Agats adalah kendaraan yang digunakan untuk wara-wiri. Penduduk hanya menggunakan motor listrik dan sepeda serta gerobak sebagai moda transpotasinya. Tidak ada motor bermesin apalagi mobil dikota ini. Hal itu pula yang menyebabkan kota ini bebas polusi asap kendaraan bermotor (kecuali di daerah dekat pelabuhan yang masih banyak perahu motornya). Pemerintah daerah Kabupaten Asmat sendiri yang menganjurkan dan menetapkan hal tersebut, mengingat jalan – jalan dikota agats yang berbahan kayu (motor listrik ringan dan tidak bising, sehingga cocok untuk kondisi jalan), lalu sulitnya akses BBM (bahan bakar minyak) ke kota ini, maka dipilihlah hanya motor listrik saja yang bisa hilir – mudik dikota ini. Jadilah kota Agats bebas bising dan bebas polusi.

Bangunan di Kota Agats (photo credit : Liberty Krisman)

Bangunan di Kota Agats
(photo credit : Liberty Krisman)

Terkait akses, Kota Agats bisa dicapai dengan dua cara yaitu jalur Laut dan Jalur Udara. Keduanya paling mudah dijangkau dari kabupaten Mimika. Untuk jalur udara, kita bisa menumpang pesawat – pesawat perintis yang jadwal penerbangan rutinnya setiap hari Rabu dan Kamis dari bandara Mozes Kilangin, Timika. Sedangkan untuk jalur Laut kita bisa menumpang Kapal Pelni yang jadwal melautnya setiap hari Sabtu dari pelabuhan Pomako (diluar kota Timika). Dan bagi yang berniat berkunjung kesana pilihlah waktu ketika musim hujan karena keunikan kota Agats ini akan lebih terasa ketika rawa – rawa yang menggenanginya terisi penuh oleh air, dan ketika hal itu terjadi kita mungkin akan bilang;

“Ini Venezia, rasa Papua”.

Iklan
Categories: tulislepasbebas | Tag: , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: