Tentang Klinik Kopi di Jogja

Bar Kopi Klinik Kopi

Bar Kopi Klinik Kopi

“Mas Dandy, Mau kopi yang seperti apa?”, tanya Pepeng, sang empunya tempat sebelum meracik kopi untuk saya. Pertanyaan seperti itu memang selalu ia lontarkan kepada penikmat-penikmat kopi yang datang ke kedainya, setelah kemudian ia mulai bercerita tentang Kopi yang ia racik itu.

Pepeng Sedang Meracik dan Bercerita Tentang Kopi

Pepeng Sedang Meracik dan Bercerita Tentang Kopi

Deretan Biji Kopi Siap Seduh Lengkap Dengan Ceritanya

Deretan Biji Kopi Siap Seduh Lengkap Dengan Ceritanya

Kedai Kopi nan bersahaja di bilangan Jalan Kaliurang, Jogjakarta ini memang menyuguhkan pengalaman ngopi yang menarik. Desain bangunan yang tersusun dari rangkaian bambu serta konsep bangunan bertumbuh menambah pengalaman yang intens ketika berkunjung kesini. Pepeng juga membuat konsep kedai kopi dimana pengunjung dapat mengetahui proses pembuatan kopi dari mulai selesai dipetik; disangrai (roasting); hingga diseduh menjadi secangkir kopi.

Bersantai Sembari Ngopi

Bersantai Sembari Ngopi

Tempat Pengunjung Saling Bercengkrama

Tempat Pengunjung Saling Bercengkrama

Ngobrol, itu juga konsep yang diusung ketika saya datang kesini. Klinik Kopi tidak menyediakan Wifi, namun jangan takut kesepian, sapalah pengunjung lain lalu ajak bicara, atau kalau memang agak sungkan Pepeng sendiri yang akan mengajak kita untuk ngobrol. Obrolan nya pasti diawali tentang kopi-kopinya dan bisa saja berlanjut ke hal-hal sederhana lainnya.

Klinik Kopi juga hanya menyediakan kopi – kopi murni yang tidak dicampur bahan tambahan apapun(gula,susu,coklat), tapi bukan berarti kopinya menjadi tidak enak. Disini kita akan dibawa menjelajahi rasa asli dari biji-biji kopi Indonesia yang diambil dan dikelola sendiri oleh Pepeng langsung dari petani-petaninya. Ada bagian menggelitik ketika saya mencoba biji kopi kawah ijen yang diseduh dengan cara espresso. Karena menurut saya enak, saya bilang ke Pepeng jika saja ditambahkan susu pasti akan lebih enak lagi, Pepeng lalu berkelakar,

“Mas, kemarin suket(rumput) aku keringkan lalu aku bakar,terus ditumbuk, terus ta’ seduh, ta’ tambahi susu dan gula, terus ta’ kasihkan anak-anak(pengunjung Klinik Kopi) dan mereka pun juga bilang itu Enak..haha”.

Mendengar itu saya pun jadi ikut tertawa. Ya, rasa Kopi memang tidak bisa disamakan dengan air tebu.

Berdiskusi Tentang Kopi, Juga Tentang Apa Saja

Berdiskusi Tentang Kopi, Juga Tentang Apa Saja

Proses edukasi seperti itu juga yang memang perlahan terus ditanamkan oleh Klinik Kopi, dan mungkin kedai-kedai atau penggiat kopi lainnya, sambil juga memberdayakan hingga ke sektor hulunya yaitu Petani Kopi agar nanti bisa juga hidup layak dari kopi.

PS : Yang Berminat berkunjung ini lokasinya http://goo.gl/maps/w3IcZ

Iklan
Categories: tulislepasbebas | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: