Candi Sukuh, Monumen sejarah yang jadi tertawaan UNESCO

pintu masuk Candi Sukuh

Pintu Masuk Candi Sukuh

Ini bukan kali pertama saya ke candi sukuh, mungkin yang keempat barangkali. Kebetulan letaknya yang berada di Kabupaten Karanganyar yang juga merupakan kampung halaman Kakek yang membuat saya cukup sering berkunjung ke Candi ini.

Representasi Lingga

Representasi Lingga

Lingga-Yoni

Lingga-Yoni

Candi Sukuh ini adalah perpaduan antara candi Animisme dan candi Hindu, Kenapa begitu?. Dikatakan candi Animisme karena bangunan utama Candi yang merupakan Piramida yang diperkirakan dibangun sebelum tanah Jawa mengenal adanya Agama. Yang menarik Piramida di candi Sukuh ini bentuk nya mirip sekali dengan Piramida yang dipunyai suku Astec di Meksiko sana. Bentuk asli dari Piramida ini sejatinya merupakan representasi dari konsep Lingga-Yoni, hal ini pula yang menyebabkan banyaknya ornamen-ornamen disekeliling piramida yang menggambarkan tentang Lingga-Yoni tersebut, yang kemudian banyak dihubungkan orang sebagai simbol-simbol erotisme.

Relief Baratayuda

Relief Baratayuda

Lalu dimasa pemerintahan Majapahit, Raden Brawijaya menemukan Piramida ini dan menambahkan beberapa ornamen khas Hindu (relief baratayudha) serta beberapa arca dewa-dewi Hindu untuk kepentingan pemujaan dan peribadatan. Kemudian jadilah Candi Sukuh seperti sekarang ini.

Pada kunjungan saya ke Candi Sukuh kali ini saya bertemu mas Budi (sayangnya beliau menolak di foto dari dekat), sosok sederhana yang menjaga candi ini secara turun temurun.

Mas Budi (penjaga Candi)

Mas Budi (penjaga Candi)

Kepada saya mas Budi bercerita banyak tentang pengalamannya menjaga dan merawat monumen sejarah ini. Beberapa arca dan relief memang sudah tidak ditempatkan lagi di area sekitar, ada yang ditempatkan di museum arca Candi Sukuh, Museum Radyapustaka Surakarta, dan Museum Nasional Jakarta. Hal ini untuk mencegah pencurian sekaligus memudahkan dalam hal perawatannya. Ada hal menggelitik yang diceritakan mas Budi tentang perawatan arca dan bangunan Candi Sukuh ini, beberapa waktu silam pernah ada rombongan dari UNESCO yang datang meneliti untuk kepentingan inventarisasi data-data purbakala seluruh dunia. Mereka tertawa melihat apa yang telah dilakukan Indonesia terhadap Candi Sukuh ini.

Penambalan di Puncak Piramida

Penambalan di Puncak Piramida

Arca Kura-Kura yang ditambal Seadanya

Arca Kura-Kura yang ditambal Seadanya

Beberapa arca yang pecah atau sudah kehilangan bentuk aslinya ditambal “sekenanya” menggunakan tambalan semen. Mas Budi yang ketika itu masih SMP dan melihat proses penambalan itu mengaku pernah bilang kepada Ayahnya yang ketika itu menjadi petugas di Candi ini, bahwa sebaiknya di diamkan dulu saja, tidak usah dipaksa ditambal seperti itu. Namun penambalan sudah terlanjur dilakukan dengan alasan untuk menjaga supaya tidak bertambah rusak.

Tahun 2015 ini kementerian dan lembaga purbakala terkait berencana memugar Candi Sukuh agar tetap lestari. Semoga niatan baik ini dibarengi dengan cara-cara dan langkah-langkah yang baik pula, agar tidak kembali jadi bahan tertawaan Dunia.

Pengunjung Candi

Pengunjung Candi

Iklan
Categories: tulislepasbebas | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: