KOK TONG, Kopi Akulturasi dari Sumatra Utara.

mtf_nHBJZ_127[1]

KEDAI KOPI KOK TONG

Sejarah kopi Indonesia tidak lepas dari diberlakukannya Culture Stelsel (Tanam Paksa) oleh Belanda. Kopi yang awalnya dikenali orang Eropa sebagai ‘Minuman Anggur dari Arab’(karena istilah ini juga maka kemudian ada sebutan kopi Arabika) dicuri bibitnya oleh Belanda, diselundupkan dari Yaman lalu ditanam dinegara – negara jajahannya. Pulau Jawa merupakan tempat pertama kali Belanda menanam kopi di Indonesia. Setelah berhasil menanam arabika di Jawa, Belanda melanjutkan menanam kopi ke wilayah – wilayah lain di Indonesia. Kopi – kopi arabika yang ditanam Belanda ini pun mendapat tempat di hati masyarakat Internasional dan kemudian mendapat sebutan Coffee Java.  Sebutan yang beredar di masyarakat Indonesia kala itu pun mengikuti sebutan internasional ini, di beberapa tempat seperti di Sumatra kopi disebut sebagai ‘Minuman Jawa’.

Pematang Siantar, yang menurut saya merupakan kota yang menjadi salah satu surganya kopi Indonesia di tengah – tengah Sumatra, adalah kota kecil dimana kita dapat dengan begitu mudahnya menemukan kedai/warung kopi. Dan isi dari kedai – kedai tersebut tak lain adalah kopi – kopi enak sisa Tanam Paksa lengkap bersama obrolan dari tiap – tiap peminumnya.

Adalah Kedai Kopi Kok Tong yang menarik perhatian saya ketika berkunjung ke Pematang Siantar ini. Sangat – sangat beruntung disana saya bisa bertemu langsung dengan pemilik kedai ini yaitu Bapak Paimin Halim, langsung saya pesan secangkir kopi O panas racikan kedai miliknya dan lanjut bercerita. Pak Halim, beliau saya panggil, menerangkan bagaimana kedai dan branding Kok Tong melekat pada kedai kopi yang sudah diturunkan hingga tiga generasi ini. Yang pertama adalah mengapa Kok Tong ini  bernama Kok Tong. ‘Kok’ dalam bahasa Indonesia berarti Negara dan ‘Tong’ berarti Timur, nama ini diambil dari nama Orang Tua pak Halim yaitu Lim Kok Tong yang meneruskan usaha kopi ini dari pendahulunya. Adalah Lim Tee Kee, Orang Tua dari Lim Kok Tong yang memulai bisnis kopi ini untuk pertama kalinya. Sekitar awal 1900an Lim Tee Kee tiba di Indonesia dan melihat potensi yang bisa dijadikan lahan bisnis di Sumatra Utara. Sampai lah ia di Kabupaten Simalungun dan melihat hamparan kebun kopi. Ia kemudian mengolah biji – biji kopi itu dengan cara yang ia ketahui dari negri asalnya, Cina. Ia menjemur, menggoreng, lalu menggiling kemudian menyajikan kopi Simalungun tadi dengan segala pengetahuan yang ia ketahui tentang bagaimana mengolah kopi. Walhasil, secangkir kopi klasik dengan sentuhan otentik yang ternyata diterima dengan sangat baik oleh masyarakat Simalungun. Sekitar tahun 1925 Lim Tee Kee kemudian membuat sebuah kedai di pusat Simalungun yaitu Pematang Siantar, kedai ini kemudian maju pesat karena memang rasa kopinya yang enak. Sepeninggal Lim Tee Kee usaha kedai kopi tersebut lalu diturunkan kepada Lim Kok Tong.

Lim Tee Kee memberi nama anaknya Lim Kok Tong bukan tanpa alasan. Karena ia lahir di Indonesia maka ia diberi nama demikian yang berarti, ‘Lim dari Negara Timur’. Namanya ini juga yang kemudian menginspirasi Lim Kok Tong untuk melabeli usaha kopi yang telah dirintis keluarganya ini. Kopi Kok Tong, Kopi dari Negara Timur yang merupakan kopi hasil akulturasi dari racikan pengetahuan negri Tionghoa dengan biji – biji kopi Indonesia sisa Tanam Paksa.

mtf_nHBJZ_165[1]

Produk Kopi Kok Tong yang Bisa Dijadikan Sebagai Buah Tangan

Iklan
Categories: tulislepasbebas | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: