Perjalanan mengitari sebagian pulau – pulau terdepan Indonesia. (bagian 3)

Marampit

Pulau Marampit
taken : dandi

Perairan laut Nanusa sedang asik – asiknya ini hari, ombak tidak tenang tapi juga tidak terlalu besar, sesekali pam-boat yang saya tumpangi dari pulau Intata ini terhempas setengah jengkal ke udara namun segera kembali dipeluk laut biru. Destinasi? Pulau Marampit.

Sebelum mencapai pulau Marampit, jika kita dari Intata, maka kita akan melintasi satu pulau terlebih dahulu, namanya pulau Mangupu. Pulau Mangupu ini adalah pulau tak berpenghuni, isinya hanya hutan Kelapa yang dimanfaatkan warga sekitar. Uniknya dipulau ini, karena letaknya diantara Kakorotan dan Marampit, penduduk membagi wilayah pemanfaatan lahannya. Ada bidang – bidang tanah yang hanya boleh dimanfaatkan oleh warga Kakorotan, ada bidang – bidang tanah yang hanya boleh dimanfaatkan oleh warga Marampit, dan mereka menjalankan ini dengan rukun dan tertib. Sayang saya tak sempat mendarat ke pulau ini, hanya sejenak menepikan pam-boat di pinggir karang pantai Mangupu, kebetulan beberapa orang yang ikut mengantar saya ke pulau Intata sebelumnya, harus turun di pulau ini, katanya mereka mau mengambil kayu untuk menyelesaikan pembuatan sebuah perahu.

Lepas dari pulau Mangupu ombak yang sedang asik – asiknya tadi kemudian berubah dan mulai unjuk keperkasaannya, awalnya kami ingin merapat disisi timur pulau Marampit dimana disitu lah letak dermaga kapal desa Marampit, kami pikir akan mudah untuk merapat disana. Tapi karena ombak cukup besar kami memutuskan untuk pindah haluan, kami ambil sisi agak barat pulau untuk menyandarkan pam-boat ini. Sempat saya berpikir, apa yang menjadi pertimbangan pembangunan dermaga di sisi timur ini ya? Jika ombaknya sedang besar begini dan kapal – kapal tak bisa merampat, bukankah ini pemborosan?.

Akhirnya setelah sedikit memutar, kami pun menepi dipantai yang relatif lebih tenang, kami tiba di desa Dampulis Pulau Marampit.

Hmm, mungkin jadi sedikit membingungkan membaca nama – nama yang muncul, Pulau Marampit, Desa Marampit, Desa Dampulis, nah begini ceritanya. Pulau Marampit adalah sebuah pulau yang terdiri dari lima desa yaitu Desa Marampit, Marampit Timur, Laluhe, Dampulis, dan Desa Dampulis Selatan. Awalnya di Pulau ini hanya ada tiga desa (Marampit, Laluhe, Dampulis) dan yang menjadi pusat adalah desa Marampit, dan oleh sebab itu kemudian Pulau seluas 15 km persegi ini dinamai Pulau Marampit.

Marampit sendiri berarti ”Tutup”, karena bentuk pulau ini memang juga menyerupai penutup. Dari luasannya yang paling besar diantara pulau – pulau lain di kecamatan Nanusa dan letaknya yang di ”pinggir” samudera pasifik, pulau Marampit ini memang seolah – olah menjadi ”tutup” bagi pulau Karatung dan pulau lain di kecamatan Nanusa dari terjangan ombak samudera Pasifik. Maka demikianlah kenapa Pulau Marampit ini dinamai Marampit.

Kepala Desa Termuda

Main Sepeda (anak -anak Marampit)
taken : Rizki Bachtiar, edited : dandi

Nah, sampailah saya di salah satu desa di Pulau Marampit yaitu Desa Dampulis. Desa ini baru saja mengalami pemekaran, salah satu wilayahnya kini telah menjadi desa baru yaitu desa Dampulis Selatan. Ketika tiba, saya melihat warga sedang bergotong royong membangun kantor desa baru di salah satu sudut desa, kantor desa yang lama kebetulan letaknya ada di wilayah Dampulis Selatan, oleh sebab itu warga Dampulis membangun lagi kantor desa untuk kegiatan kemasyarakatan mereka.

Sebentar saya melihat – lihat, saya pun kemudian diantar menuju rumah kepala desa Dampulis. Aha, kebetulan sekali, saya memang berharap bisa bertemu dengan tokoh masyarakat ketika pergi kemana – mana, hal ini akan memudahkan saya untuk mendapatkan informasi mengenai tempat yang saya kunjungi ini. Tapi ternyata pak Kepala Desa sedang ikut bekerja bakti membangun kantor desa, saya pun menunggu dengan suguhan Roti Berlumur gula jawa, roti yang sama dengan yang saya makan di Kakorotan.

kiri ke kanan (Camat Nanusa, Saya, Kepala Desa Termuda)
taken : Rizki Bachtiar

Tak beberapa lama kemudian masuklah sesosok pemuda yang saya pikir anak dari kepala desa yang saya tunggu, tapi. Anak muda ini kemudian memperkenalkan diri, namanya Kris Siso, dialah kepala Desa Dampulis, Wow. Usianya baru menginjak 27 tahun bulan lalu dan ia sudah dipercaya untuk memimpin desa ini. Kepemimpinannya memang belum lama, baru enam bulan ia dilantik setelah katanya mengalami proses Pilkades yang cukup seru, tapi ia sudah cukup mengukir prestasi untuk desa Dampulis ini, salah satunya adalah Kantor Desa yang kini sedang dibangun. Sudah empat tahun sejak dimekarkan Desa Dampulis ini tidak punya kantor Desa, selama ini desa hanya meminjam rumah warga yang tidak terpakai untuk kantor Desanya. Dengan menyisihkan dana PNPM yang juga atas persetujuan warga, Kris akhirnya bisa membangun Kantor Desanya.

Monumen Tapal Batas Tidak Pas
taken : dandi

Seperti bertemu teman lama, saya dan Kris bercerita tak ada hentinya. Ia menuturkan  tentang masih kurangnya perhatian pemerintah pusat maupun Kecamatan Nanusa terhadap Desa Dampulis, di satu pulau Marampit ini yang lebih sering mendapat perhatian hanya desa Marampit dan Laluhe. Ia sempat mengungkapkan bagaimana pembangunan hanya banyak dilakukan di dua desa tersebut, salah satunya adalah pembangunan dermaga yang sempat saya singgung sebelumnya. Memang jika dilihat dari kondisi geografis dermaga tersebut akan lebih tepat jika dibangun disisi barat pulau Marampit ini, lautnya cukup dalam tetapi ombaknya lebih tenang jika dibanding dengan sisi timurnya. Kris juga mengungkapkan tentang kesalahan pembangunan tugu perbatasan di pulau ini, tugu tersebut ditempatkan di posisi yang tidak semestinya di desa Laluhe. Lokasi tugu tersebut ternyata tidak tepat dibangun di titik patok terdepan, jika tugu ini memang dibangun untuk simbol batas negara, bukankah sebaiknya ditempatkan di posisi yang memang menunjukkan batas terdepan negara? Lima milyar perkiraan dana yang sudah dihabiskan untuk membangun tugu ini sepertinya sia – sia hanya karena kesalahan konyol.

Panel – Panel Surya Pulau Marampit
taken : dandi

Dan malam pun menjelang, kabar gembiranya pulau Marampit ini sudah masuk listrik sejak lama, di wilayah Laluhe sudah dibangun PLTD untuk memenuhi kebutuhan listrik satu pulau. Selain itu, sejak setahun lalu didekat lokasi PLTD tadi juga telah dibangun satu komplek pembangkit listrik tenaga surya, namun belum beroperasi, kabarnya untuk pengoperasiannya tinggal menunggu peresmiannya saja. Malam itu Kris mengumpulkan warga untuk berkonsultasi dan bertukar pendapat mengenai dana PNPM yang baru masuk untuk bidang pendidikan, rencananya dana ini akan dimanfaatkan untuk beasiswa anak – anak Dampulis yang putus sekolah.

Pagi..sapaan ramah itu menyambut saya, sapaan dari Marampit. Menurut sejarah, pulau ini dahulu pernah menjalin kerjasama dengan kerajaan Majapahit, Marampit ini dahulu masuk di wilayah kekuasaan Kerajaan Bantek, namun kerajaan ini sekarang sudah hilang karena pusat kerajaannya yaitu pulau Bantek(letaknya di timur pulau Marampit) telah hilang tenggelam tersapu tsunami. Sisa – sisa kerajaan bantek ini dapat kita temukan di bagian tengah pulau dimana disitu terdapat goa diatas bukit yang menyimpan peninggalan sejarah kerajaan Bantek, keramik – keramik hasil pertukaran dengan majapahit sampai tengkorak – tengkorak orang Bantek ada disana. Sayangnya saya tidak berhasil ketempat tersebut, jadi tidak bisa melihat secara langsung.

Menara Suar Pulau Marampit
   taken : Rizki Bachtiar

Maka saya memutuskan untuk berkeliling pulau saja, melihat Monumen Batas yang salah posisi, Pantai karang yang tenggelam ketika air pasang, hingga Menara Suar yang letaknya diujung utara pulau. Di seberang menara suar ini saya melihat ada pulau yang sepertinya tak berpenghuni, menurut informasi itu adalah pulau Garat, potensi bawah laut pulau itu dikatakan tidak kalah dengan Bunaken, kita bisa jumpai Hiu, Penyu, dan coral – coral cantik jika menyelam disana. Tapi lagi – lagi sayangnya tak sempat kepulau itu.

Senja dan Harmonika
taken : Rizki Bachtiar

Setelah puas berkeliling saya kembali ke Dampulis, menemui kepala Desa Termuda. Sore itu Kris menungkapkan rencananya untuk pergi menjemput istri dan mengurus sesuatu di Melonguane esok, wah kebetulan, saya jadi akan punya teman perjalanan. Ia lalu bercerita mengenai lobster – lobster dan potensi perikanan yang ada di Marampit ini. Masalahnya sama dengan di Kakorotan, pemasaran. Kris mengungkapkan mereka butuh Investor untuk potensi yang besar ini. Bayangkan, lobster mutiara yang di Jakarta bisa seharga lima ratus ribu satu ekor, disini mereka bisa mendapatkan dengan mudahnya. Dan cerita kami berlanjut sambil ditemani kopi dan lolong anjing – anjing Dampulis.

Pemandangan Pantai Karang Pulau Marampit

Iklan
Categories: tulislepasbebas | Tag: , , | 5 Komentar

Navigasi pos

5 thoughts on “Perjalanan mengitari sebagian pulau – pulau terdepan Indonesia. (bagian 3)

  1. ini di sangihe talaud ya? seru bgt dan.. gak ngajak2 dah hahaha
    btw, apakabar lu?

  2. wuiih..iya bud di Talaud..ngajaknya lwt cerita dulu aja ya..hehe
    alhamdulillah baik, lu apa kabar?dgr2 mau nikah? 😀

  3. dekill

    wah seru ini 🙂

  4. mas ijin copy artikel ini boleh gak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: