Perjalanan mengitari sebagian pulau – pulau terdepan Indonesia. (bagian 2)

Intata

Pasir Putih Intata
taken : Rizki Bachtiar

Mesin pam-boat telah dinyalakan, bersama empat orang warga Kakorotan saya siap menyebrang ke pulau Intata, pulau kecil yang letaknya kira – kira hanya 800 meter dari Kakorotan. Laut yang jernih dan pemandangan padang lamun dibawahnya menjadi pencuci muka saya pagi ini, langsung saya melompat ke muka pam-boat agar dapat menyaksikan pemandangan ini lebih jelas. Sepuluh menit kemudian yang terhampar di depan mata saya adalah pasir putih nan bersih pulau Intata, betapa pagi ini indah sekali.

Bangunan(kosong)
Hanya Digunakan Ketika Mane’e
taken : dandi

Intata, pulau dengan luas tak lebih dari satu kilometer persegi yang terletak pada 04° 38’ 38” LU dan 127° 09’ 49” BT ini adalah pulau tak berpenghuni berpasir putih dan, indah. Di selat yang memisahkan pulau ini dan pulau Kakorotan terhampar padang lamun di tepinya dan terumbu karang di bagian tengahnya, yang semuanya bisa kita lihat dari atas permukaan air karena air laut yang sangat jernih. Pulau Intata dahulu adalah bagian dari pulau Kakorotan yang kemudian terpisah karena gempa dan tsunami (baca di cerita di bagian 1). Kini pulau ini menyisakan cerita, budaya, adat dan kebiasaan yang tidak akan kita temukan di tempat lain.

Mane’e.

Alkisah ada dua orang yang muncul tiba – tiba di pulau Kakorotan Tua (sebelum berpisah dengan Intata dan Malo) di malam hari ketika bulan purnama. Orang – orang benar – benar tak tahu dari mana asal kedua orang itu, kemudian mereka melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan orang – orang Kakorotan Tua sebelumnya. Mereka memilin tali hutan (serat, akar atau ranting pohon dari hutan) lalu merangkainya dengan daun – daun nyiur sehingga membentuk jaring yang besar (sami). Setelah jaring (sami) itu terbentuk mereka kemudian membentangkannya di tepi pantai sambil salah seorang dari mereka membaca doa – doa. Jaring tadi kemudian digiring kepantai dan setelah itu banyak sekali ikan yang terperangkap di jaring itu. Orang – orang Kakorotan tua yang melihat kejadian itu kemudian mendekati dan bertanya tentang apa yang mereka lakukan, mereka menjelaskan lalu kemudian menghilang entah kemana. Namun sebelum menghilang, dua orang misterius tadi meninggalkan sami yang mereka buat. Orang – orang Kakorotan tua pun mempelajari bagaimana cara membuat sami dan kemudian meniru apa dilakukan orang – orang misterius yang sampai sekarang tidak diketahui berasal darimana. Kejadian misterius tadi kemudian mendasari kegiatan yang kini disebut Mane’e.

Mane’e
courtesy : http://www.klikunic.com

Mane’e adalah kegiatan mencari ikan yang dilakukan bersama – sama oleh warga Kakorotan, bahkan sekarang jika kegiatan ini berlangsung orang – orang dari sekitar Kabupaten Talaud dan Sulawesi Utara ikut datang ke pulau Intata untuk ikut berpartisipasi. Caranya seperti yang dilakukan oleh orang misterius yang telah diceritakan diatas, sebelumnya sami dibuat dulu dari bahan – bahan yang tersedia di alam di Intata, kemudian ditebar di tepi pantai dimana masing – masing orang nantinya memegangi sami itu, lalu setelah dibacai doa – doa mereka bersama – sama menggiring sami, dan, voila..ikan pun banyak yang terangkap dan tinggal di panen.

Mane’e ini rutin digelar setiap tahun di pulau Intata. Pelaksanaannya pada saat pasang terendah air laut, maksudnya adalah agar banyak ikan yang terjaring di pinggir pantai. Kegiatan ini dilaksanakan biasanya pada bulan Mei setiap tahunnya, dan waktunya ketika bulan purnama dibulan itu, alasannya ya pasang surut terendah tadi.

Sisa Sami (jaring untuk Mane’e)
taken : Rizki Bachtiar , edited : dandi

Mane’e sendiri artinya sepakat, jika digali secara filosofis maka ini adalah kegiatan yang dilakukan atas dasar kesepakatan untuk bersama – sama mencari ikan dilaut yang sama yang nantinya digunakan untuk kemakmuran bersama. Jadi mane’e ini semacam gotong royong yang dilakukan warga Kakorotan atau Talaud pada umumnya. Jika di Sumatera barat ada Julojulo, di Bali ada Subak,di Minahasa ada Mapalus, di Jawa Tengah ada Sambatan, di Jawa Barat ada Liliuran, dan Tapanuli ada Marsiurupan, maka di Talaud ada Mane’e.

Mane’e, budaya persatuan dari salah satu pulau terdepan.

Dermaga menuju nirwana.

Selain Mane’e, Intata punya beberapa daya tarik lain, selain juga pantai berpasir putih yang ada dimuka pulaunya. Untuk yang tertarik pada kegiatan bawah laut, Intata menawarkan terumbu karang yang masih terjaga, penyelaman atau mungkin jika hanya ingin snorkling bisa dilakukan di selat antara Kakorotan dan Intata.

Tengkorak Leluhur
taken : Rizki Bachtiar, edited : dandi

Ditengah pulau kita dapat menjumpai lokasi – lokasi keramat pulau Intata, salah satunya adalah goa tempat penyimpanan tengkorak para leluhur. Konon mereka adalah orang – orang yang mati berperang mempertahankan tanahnya dari serangan portugis.

Yang menarik lainnya terletak di sisi timur pulau Intata ini. Saya menjumpai sebuah bentukan yang tidak biasa, batuan karang yang memiki bentuk seperti kapal Induk jika dilihat dari kejauhan. Warga percaya bahwa ini sebenarnya adalah dermaga, memang lokasinya menjorok ke arah laut, tapi ini bukan dermaga biasa. Warga percaya bahwa diseberang pulau Intata, disebuah lokasi antah berantah ditengah samudera Pasifik sana, terdapat sebuah pulau mistis yang mereka sebut pulau Khayangan. Isinya adalah bidadari – bidadari cantik yang akan menjemput orang – orang baik, dan dermaga ini adalah tempatnya mereka melakukan penjemputan, dermaga menuju nirwana. Di cerita masyarakat yang beredar, sudah banyak warga yang tiba – tiba menghilang setelah mengunjungi dermaga ini. Saya sempat berpikir, jika setelah dari dermaga ini saya menghilang maka saya adalah salah satu orang baik yang telah dijemput bidadari, ah..tapi sepertinya saya bukan.

Dermaga Menuju Nirwana
taken & edited : dandi

Dan tuas mesin pam-boat sudah ditarik lagi, mesin pun kembali berputar, tanda perjalanan harus kembali dilanjutkan.

Masombate apia, Kakorotan. (Sampai jumpa, Kakorotan)

-Selanjutnya, Pulau Marampit dan kepala Desa Termuda

Iklan
Categories: tulislepasbebas | Tag: , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: