Perjalanan Mengitari Sebagian Pulau – Pulau Terdepan Indonesia. (bagian 1)

Meliku Nusa

Lewat tengah malam saya sudah berada diatas kapal perintis yang akan membawa saya ketempat yang sama sekali tak pernah saya pikirkan sebelumnya. Pulau – pulau di utara negri ini yang pastinya indah, tiada bising, belum terkontaminasi polusi, dan yang pasti akan banyak senyum dari wajah – wajah baru disana nanti. Saya sangat yakin untuk perihal senyum ini, seyakin saya kepada negri yang damai, negri yang ramah, Indonesia.

KM Meliku Nusa
taken : Rizki Bachtiar, edited : dandi

Kebetulan kapal yang saya tumpangi ke pulau pertama namanya sama dengan judul cerita ini, Meliku Nusa. Beruntung saya bertemu komprador Kapal setiba saya di Melonguane, karenanya saya juga jadi tahu banyak tentang Kapal Meliku Nusa ini. Ini adalah sejenis kapal feri perintis yang melayani rute Melonguane (Talaud) – Karatung – Miangas – Tahuna (Sangihe) – Bitung, lalu rute itu akan dibalik ketika kapal telah tiba di pelabuhan Bitung. Kapal yang menjadi tulang punggung warga baik warga disekitar Kabupaten Talaud maupun Sangihe.

Ada empat perusahaan jasa transportasi (kapal perintis) yang melayani rute perjalanan reguler ekonomis ke kedua Kabupaten terdepan tadi, selain KM Meliku Nusa, ada KM Berkat Taloda, KM Daraki Nusa, dan KM Sangiang. Yang terakhir adalah kapal Pelni milik negara, bedanya kapal ini tidak merapat di Melonguane, ia hanya sampai pelabuhan Lirung yang letaknya diseberang pelabuhan Melonguane. Dari keempat KM tadi hanya KM Sangiang yang memiliki jadwal pelayaran dua minggu sekali, sisanya berlayar seminggu sekali dengan jadwal pelayaran yang bergantian. Rata – rata untuk masing – masing kapal ini memang berlayar seminggu sekali, namun kadang bisa juga lebih. Dan coba bayangkan jika dalam seminggu itu ada tujuh hari dan kapal – kapal ini berlayar bergantian setiap minggunya, maka hanya ada tiga hari dalam seminggu yang bisa dimanfaatkan warga untuk bepergian keluar, belum lagi jika salah satu kapal sedang dalam perbaikan, lebih sedikit lagi jumlah harinya, yang berarti juga terhambatnya transportasi mereka baik dalam distribusi barang dan kebutuhan, distribusi manusia, dan lain – lain. Sarana transportasi memang hal pertama yang saya garis bawahi ketika sampai disini.

Dan sauh kapal Meliku Nusa ini pun sudah diangkat, sang Kapten juga telah menarik tuas terompet kapal yang menandakan kapal siap berangkat. Jam dua dini hari kapal ini meninggalkan pelabuhan Melonguane. Tujuan pertama saya, pulau Kakorotan.

Kakorotan, Pulau Merunduk.

Pulau Kakorotan

Pulau Kakorotan
taken and edited : dandi

Sunrise membangunkan saya dari hammock tempat saya tidur. Semalam saya memilih memasang ayunan tidur itu diburitan kapal, sengaja memang biar saya tidur semalaman bersama bintang. Banyak penumpang kapal yang juga sudah bangun dan menikmati matahari terbit dari buritan kapal ternyata, tujuan mereka kebanyakan ke Miangas, kira – kira dua belas jam lagi mereka harus bertahan di kapal ini sebelum sampai kesana. Kemudian jam sepuluh pagi saya sudah bisa melihat gugusan pulau – pulau setelah sebelumnya hanya melihat laut dan laut saja, sepertinya sebentar lagi saya sudah akan sampai duluan. Diantara dua pulau di kanan dan kirinya Meliku Nusa lalu mematikan mesin dan melempar jangkarnya. Ternyata ini tujuan saya dan beberapa penumpang lainnya, kami yang punya tujuan ke pulau Kakorotan harus turun dari kapal, tapi mana dermaganya?. Ya, pulau Kakorotan belum mempunyai dermaga tempat kapal – kapal besar  bersandar, alhasil mereka yang mau ke pulau ini harus turun ditengah laut jika mereka menggunakan kapal besar. Tapi tenang, dibawah Kapal sudah menunggu perahu – perahu nelayan yang akan mengantar kita sampai kepulau. Diatas laut yang biru sebiru-birunya biru, saya dan penumpang lain yang ingin ke pulau Kakorotan ini pun berpindah moda.

Pulau Kakorotan (2)
taken and edited : dandi

Selain penumpang, barang – barang kebutuhan untuk pulau Kakorotan pun harus dialih-moda-kan ketika ingin merapat kepulau ini, baik kebutuhan pokok (seperti beras, minyak, dll), bahan bangunan, sampai kendaraan bermotor. Dan itu semua dilakukan di tengah laut. Jika salah saja saat melakukan pemindahan barangnya, ya mau tidak mau goodbye ke dasar laut.

Saya pun menginjakkan kaki di pasir putih yang sedikit kasar pulau Kakorotan, pasir putih yang sedikit kasar ini juga merupakan bukti bahwa pulau ini tergolong pulau muda dalam hal pembentukannya, proses pelapukan karang yang membentuk pasir – pasir di pulau ini masih tergolong baru untuk ukuran siklus Geologi.

Pantai Kakorotan dengan Dermaga yang Belum Jadi
taken : Rizki Bachtiar, edited : dandi

Yak, pulau Kakorotan. Saya langsung dipandu menuju rumah kepala Desa, kebetulan sekali, dari sana pasti akan banyak memperoleh informasi, karena tak ada yang lebih mengetahui dan menguasai pulau ini selain pemimpinnya, seharusnya. Suguhan teh hangat dan roti yang diselimuti gula merah (seperti gemblong) langsung saya lahap beserta obrolan bersama pak Kepala Desa. Tapi obrolan kami tak lama, kepala Desa harus segera pergi untuk mengurus kebutuhan desanya. Kebetulan ketika saya tiba ada bantuan beras yang baru dikirim oleh program PNPM untuk desa Kakorotan. Ketika saya turun dari Meliku Nusa tadi, saya beserta 12 ton beras memang bersamaan dirapatkan kepulau ini.

Kakorotan ini adalah juga merupakan sebuah desa, Desa Kakorotan yang meliputi pulau Kakorotan itu sendiri, pulau Intata serta pulau Malo, Dan dari ketiga pulau di desa itu hanya Pulau Kakorotan yang berpenghuni. Desa ini masuk Dalam wilayah Kecamatan Nanusa, Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara. Lokasi absolut pulau Kakorotan ini ada di koordinat 04° 37’ 36” LU dan 127° 09’ 53” BT.

Penduduk pulau Kakorotan yang berjumlah 798 jiwa ini mayoritas bekerja sebagai nelayan, potensi perikanan disini sangatlah besar, ikan – ikan dengan harga yang relatif mahal jika telah sampai di Jakarta, disini mereka dapatkan dengan mudahnya. Namun sayang, potensi itu tidak bisa mereka manfaatkan secara maksimal karena berbagai kendala, transportasi terutama. Pemasaran hasil laut disini sangatlah payah. Lobster dan Kerapu jadi tidak ada harganya karena mereka tidak bisa memasarkannya, tak ada tempat penyimpanan yang layak untuk hasil tangkapan mereka, pabrik es yang ada hanya terdapat di pulau Karatung (ibukota Kecamatan Nanusa) dan itupun hanya menghargai ikan – ikan dengan harga yang kurang pantas. Alhasil penduduk membuat Ikan Asap dan Ikan Garam (ikan asin) agar ikan mereka lebih tahan lama dan bisa dijual.

Komoditas lain dari pulau Kakorotan ini adalah Kopra. Dipulau tak berpenghuni di Intata dan pulau Malo masyarakat Kakorotan menanam kelapa yang nantinya mereka olah sebagai Kopra. Kopra – kopra ini biasa mereka jual ke Lirung atau Melonguane yang kemudian dipasarkan lagi ke Manado. Kopra ini mereka jadikan sebagai cadangan ketika ikan sedang sulit atau cuaca sedang kurang baik untuk melaut.

Senja di Kakorotan berlatar pulau Intata
taken and edited : dandi

Dan sore pun menjelang, pak kepala Desa telah kembali kerumah. Dengan sigap ibu kepala Desa menyiapkan teh untuk melunturkan lelah suaminya. Saya diajak duduk di beranda rumah sambil menikmati suasana desa. Karena saya duduk dengan pemimpin mereka, banyak warga yang lewat memerhatikan dan seperti bertanya siapa (saya) orang yang duduk bersama kepala desa itu?, ah..saya hanya orang yang tersesat dipulau ini, saya hanya melemparkan senyum kearah mereka.

Tergelitik tanya saya mengenai sejarah pulau yang punya nama unik ini, dan kepada kepala desa saya rasa tak ada salahnya  jika saya menanyakan ini, sembari senyum beliau pun menjelaskan. Pulau Kakorotan adalah pulau yang sudah dikenal sejak abad ke-8, untuk orang Talaud sendiri pulau Kakorotan ini termasuk pulau keramat karena mereka percaya leluhur mereka dahulu berasal dari pulau ini. Dahulu pulau ini tak memiliki nama, sampai saat Belanda datang mereka menamai pulau ini pulau Kakorotan. Artinya?, Kakorotan adalah sebuah kata yang diserap dari kata dalam bahasa Belanda yang berati “merunduk”. Kenapa?, Karena ketika pertama kali mendaratkan kapalnya disini Belanda melihat banyak orang yang sedang melakukan persembahyangan kepada leluhurnya, dan orang – orang Kakorotan melakukan itu dengan cara merunduk seperti kebanyakan yang dilakukan orang ketika sembahyang. Maka jadilah Kakorotan ini Kakorotan.

Malam pun datang dan bintang menyelimuti langit Kakorotan. Saya melihat beberapa warga pergi berbondong ke pinggir pantai, mau apa mereka malam – malam begini?, penasaran saya pun mengikuti. Di pantai ternyata sudah banyak cahaya kerlap – kerlip, bukan dari bintang – bintang di langit, ini layar LCD telpon selular warga. Ya, ternyata mereka kepantai untuk ‘mencari’ sinyal, berkomunikasi dengan kerabat atau kekasih di belahan lain disana, dan itu hanya bisa dilakukan di malam hari karena sinyal telekomunikasi baru akan hadir ketika malam saja. Di kecamatan Nanusa hanya ada satu menara telekomunikasi, itupun hanya tower mini yang ditempatkan di ibukota kecamatan di pulau Karatung, dan hanya beroperasi malam hari karena listrik baru akan menyala setelah matahari tenggelam.

Untuk masalah listrik di pulau Kakorotan ini sebenarnya sudah dicoba beberapa alternatif. Program PNPM pernah masuk ke pulau ini dan membangun instalasi panel surya. Selain itu ada juga LSM luar yang juga sudah mencoba membangun kincir – kincir angin kecil untuk memenuhi kebutuhan listrik. Tapi dua alternatif tadi sepertinya masih jalan di tempat, kendalanya satu, masyarakat belum terbiasa menggunakannya. Kincir angin dan panel surya itu sempat digunakan beberapa saat di awal pembangunan, tapi karena masyarakat belum biasa dan tak tahu cara merawatnya, akhirnya teknologi itu tak terpakai karena rusak. Energi alternatif memang murah, yang mahal adalah membuat orang mulai menggunakan dan terbiasa memakainya, termasuk memulai membiasakan juragan – juragan minyak itu kehilangan pasarnya.

Ngomong – ngomong soal minyak, harga BBM di pulau Kakorotan ini adalah 20.000/liter, sempat juga mencapai 25.000 dan 30.000. Saya sempat ditertawai oleh warga ketika membicarakan ini, pasalnya ia menganggap kebanyakan warga di pusat itu konyol. Buat mereka BBM itu sarana untuk pemenuhan kebutuhan, berapapun harganya kalau butuh ya pasti dibeli, yang penting ada. Kalau memang dirasa harga BBM terlalu mahal, ya biasakanlah untuk mengubah perilaku pemenuhan kebutuhan, bisa?.

Salah Satu Sudut Pantai Kakorotan
taken : Rizki Bachtiar, edited : dandi

Saya kini berada di salah satu pulau paling depan Indonesia, disebelah timur saya langsung menghadap lautan teduh Pasifik, akan sangat indah sepertinya melihat matahari terbit di pulau ini. Tapi pagi ini hujan, saya sempat tergeregah kaget ketika tahu subuh itu pulau Kakorotan diguyur hujan, suaranya seperti badai besar. Sebagai pulau kecil yang berada di tengah samudera seperti itu ancaman badai memang selalu ada, tapi warga sudah terbiasa. Selain itu ombak yang besar juga menjadi makanan sehari – hari warga yang memang kegiatan sehari – harinya adalah melaut. Tapi sebenarnya ombak besar ini ancaman yang tak disadari oleh mereka khususnya dan negara pada umumnya.

Dampak Abrasi pantai Kakorotan
taken and edited : dandi

Abrasi. Di bagian belakang wilayah permukiman atau tepatnya di bagian timur pulau Kakorotan ini dampak abrasi sudah sangat terlihat jelas. Sebagai batas negara hal ini perlu dijadikan perhatian karena jika abrasi ini terus terjadi maka akan mengikis bibir pantai yang berarti juga akan mengurangi luasan pulau dan luasan negara tentunya. Beberapa usaha sudah coba dilakukan, salah satunya dengan menanami bakau di daerah tersebut, namun gagal karena ternyata bakaunya tak mau tumbuh dan mati, entah mungkin karena kesalahan teknis penanamannya juga. Saya dipesan oleh kepala desa, masalah abrasi ini mohon dijadikan perhatian, karena sebagai aparatur pemerintahan beliau pun sudah khawatir akan hal ini.

Dampak Abrasi Pantai Kakorotan(2)
taken and edited : dandi

Kembali berbicara sejarah, sebenarnya pulau Kakorotan dan dua pulau lain yaitu Intata dan Malo dahulu menyatu, namun pada abad ke-17 sempat ada gempa besar dan Tsunami yang melanda pulau ini. Karena gempa dan tsunami tersebut akhirnya pulau yang tadinya menyatu itu akhirnya terpisah. Menurut sejarah pusat permukiman Kakorotan dahulu terletak disalah satu bagian di wilayah pulau Intata, namun karena bencana tadi penduduk disana tewas dan hanya bersisa delapan orang yang berdiam di bagian wilayah yang sekarang menjadi pulau Kakorotan. Dari delapan orang yang selamat itulah kemudian pulau Kakorotan kembali melanjutkan kehidupan, beranak pinak dan menjadi penduduk Kakorotan yang sekarang.

Penghormatan terhadap leluhur masih sangat tinggi di pegang penduduk pulau Kakorotan ini. Mereka masih menganggap suci pulau Intata yang mereka percaya sebagai bagian tempat leluhur mereka. Ada beberapa lokasi di pulau Intata yang mereka jadikan sebagai keramat. Tapi ada yang unik dipulau Intata ini, masyarakat Kakorotan dan Talaud pada umumnya biasa melakukan sebuah tradisi yang jarang bisa kita temui didaerah lain, Mane’e namanya. Tradisi leluhur Talaud yang hingga kini masih dijaga, dan yang asli hanya ada di pulau Intata.

-Lanjut nanti Ke pulau Intata…

Iklan
Categories: tulislepasbebas | Tag: , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: