Kuli Pasir Tua #3

Aku pulang menyusuri jalanan lewat pasar tadi malam. Tadi juga, lampu-lampu kota sempat sebentar padam, langit jadi sedikit lebih pekat, candra kirana yang separuh menjadi pengganti lampu. Berjalan aku di tepi mereka yang berlalu-lalang sampai kuputuskan untuk berhenti, tanpa sadar kuberdiri di depan panti pijat ketika kuputuskan untuk menyebrang berganti sisi.

Hooii!!..dan kudengar teriakan itu memanggil disebrang sana, Kuli Pasir Tua.

 

Ia duduk dikursi panjang didepan warung kopi, rokok kretek mengepul dari sela-sela jarinya. Secangkir kopi tak bertutup ia letakkan tepat di sisi kiri ia duduk, kuhampiri ia seketika setelah berhasil membelah jalan raya. Kali ini tak kulihat sekop pasirnya.

 

”jarang keliatan sekarang?”, ”iya beh, keluar kota terus. Babeh juga jarang keliatan?”. Ia membuka obrolan lalu kusambut sambil kujabat tangannya yang kasar.

 

Sudah setahun mungkin kami tak bertemu, dan ia nampak sedikit berubah, banyak senyum yang ia lempar kini. Ia memang tak menjadi kuli pasir lagi sekarang, warga kampung sebelah memberinya pekerjaan sebagai pengangkut sampah, dan itu lebih baik untuknya ketimbang tetap menjadi kuli pasir. Kemudian ia menawariku kopi, ku tolak karena sudah cukup banyak kopi untuk hari ini, darahku sudah cukup hitam sepertinya.

 

Tak lama segerombolan motor meraung-raung di depan panti pijat yang berada tepat disebrang warung kopi kami. Satu pemuda bermotor ninja turun dan berteriak-teriak di depan panti pijat itu, seolah meneriaki orang di dalamnya agar segera keluar. Lalu dari lampunya yang kelap-kelip warni-warni khas panti pijat muncul wanita paruh baya, namun sepertinya bukan dia yang diharapkan sang pemuda. Pemuda itu terus berteriak sambil menyebutkan nama, tak lama kemudian keluar juga sosok yang diharapkan. Lelaki paruh baya yang begitu menampakkan batang hidungnya sontak langsung diserbu oleh gerombolan bermotor itu. Beberapa orang yang berada disebrang jalan berusaha melerai. Beberapa orang dari gerombolan motor juga mencoba merusak bangunan panti pijat, kami yang berada diwarung kopi pun keluar dan berusaha mencegah keributan yang nampaknya bisa meluas jadi huru-hara ini. Singkat cerita, ini semua terjadi karena sang lelaki yang diserbu itu meninggalkan istrinya dirumah dan malah pergi ke panti pijat ini, gerombolan bermotor tadi adalah kerabat sekaligus front pembela si istri. Sukur pada akhirnya kejadian itu tak berujung pada huru-hara.  Sebaris kata – kata kemudian keluar dari mulut sang kuli pasir tua setelah kejadian itu.

 

”kita memang tak bisa membuat semua orang tertawa, tapi kita juga tidak punya hak untuk membuat lebih banyak orang bersedih”.

 

Aku mencoba mencerna yang ia katakan, dan kenapa ia kemudian mengatakan itu?, dan sampai kini pun aku belum mengerti.

 

Aku pamit pulang setelah obrolan dan kejadian barusan, ia sempat bertanya setelah beberapa langkahku pergi meninggalkannya,

 

”Hei nak, kau sudah menikah??”

 

Kuli Pasir Tua

1 april 2012

Iklan
Categories: tulislepasbebas | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: