Kuli Pasir Tua #1

Ini kisah dibawah bulan merah yang setengah, yang sedikit demi sedikit habis seolah dikunyah raksasa, dan ini bulan layaknya dian bagi sang pemburu, tapi bukan bagi seseorang yang ini malam masih memanggul sekopnya dibahu. Bermenung ia menatapi jalanan.

Tiada satupun mengenalinya, atau setidaknya berusaha. Hanya lalu dan berlalu, karna semakin malam semakin banyak setan berkeliaran dan memang mereka nampak seperti dikejar setan. Tapi peduli apa, itu pak tua, dia hanya bermenung.

Hey, pak, tiadakah keluargamu menunggu dirumah?tiadakah istrimu rindu peluk kasih sayang dibalik selimutnya?tiadakah anak-anakmu menuntut dongeng pengantar tidurnya?

Diturunkan lalu sekopnya dari bahu

Hey, nak, aku disini demi mereka, demi selimut yang bisa hangatkan istriku ditiap malamnya, demi dongeng yang kan kuceritakan kepada anak-anakku esok pagi sebelum mereka berangkat kesekolahnya, agar mereka rajin belajar dan tidak menjadi seperti tokoh dalam dongeng yang didengarnya.

Sesaat ringkikan kuda besi memekik telinga menutup mulut, kami terpekur.
Ah hidup.. di negeri yang begini subur?
Bahkan kuda pun tak lagi makan bulgur

sambil menatap bulan merah setengah ia berkata
“aku (cuma) cari bahagia”

sang kuli pasir tua

25 january 2011

Iklan
Categories: tulislepasbebas | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: