Penganyang

Gelegar guntur tak menyurutkan niat pak Dali beserta beberapa rekannya untuk masuk kehutan. Tujuannya satu, mencari rusa.

Pak dali adalah warga desa Perung kecamatan Lunyuk kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Pekerjaannya saat ini adalah petani, sebuah pekerjaan yang baginya paling pas ia jalani untuk menghabiskan masa tuanya. Namun cerita berbeda ia tuturkan padaku sambil asyik ia melinting rokok jontal kesukaannya. Dahulu ia adalah seorang Penganyang.

Penganyang bagi masyarakat Sumbawa adalah seorang pemburu, lebih tepatnya adalah pemburu rusa. Perburuan  yang dilakukan untuk menyambung hidup. Mereka melakukan perburuan dengan dibantu oleh beberapa ekor anjing yang sudah dilatih sebelumnya, dan sejatinya anjing-anjing inilah yang berburu, bukan mereka. Tetapi penganyang tetaplah sang pemburu dan anjing-anjing itu tetaplah hanya anjing sang pemburu.

penganyang & anjing pemburunya

Anjing-anjing pemburu ini memiliki tingkatan dan kriteria khusus untuk bisa jadi anjing pemburu, dan hanya penganyang yang tahu mana anjing yang pintar berburu dihutan mana yang anjing rumahan. Bahkan di tingkatan paling atas dikatakan bahwa anjing pemburu ini sampai ada yang bisa punya sayap, dan jika sudah mendapatkan anjing dengan tingkatan ini maka ketika melakukan perburuan anjing – anjing tersebut seolah – olah terbang ketika mengejar rusa buruannya.

Masyarakat Sumbawa dikenal masih kuat menjunjung nilai keagamaannya terutama islam, oleh sebab itu kegiatan ‘menganyang’ ini sebenarnya agak bertentangan dengan nilai – nilai yang masih mereka pegang, kenapa? yang utama karena menggunakan anjing. Ada tata cara bagi para penganyang untuk dapat terus melakukan kegiatannya tanpa harus terbentur oleh norma yang ada.

Pertama adalah tata cara memelihara anjing – anjing pemburu. Kita pasti tahu jika anjing merupakan hewan yang ‘dihindari’ dalam islam karena membawa najis atau kotor, oleh sebab itu perlu perlakuan khusus untuk memeliharanya. Penganyang memiliki ketentuan bahwa jika ingin memelihara anjing maka sebaiknya menempatkan kandangnya jauh dari rumah. Jarak minimal untuk penempatan kandang itu adalah jarak tujuh kali gaung suara yang dapat terdengar dari rumah. Sederhananya, jika kita berteriak dari rumah dan teriakan kita itu terdengar hingga, misalnya, jarak 100 meter, maka tempat memelihara anjing seharusnya tujuh kali dari jarak 100 meter itu tadi. Ini dimaksudkan agar najisnya anjing itu tidak mengotori lingkungan.

Kedua, masih berhubungan dengan najisnya anjing ini tadi. Ketika berburu, yang ditugasi untuk mengejar rusa (mayung dalam bahasa sumbawa) dan melumpuhkannya adalah anjing – anjing pemburu ini. Otomatis, meski tidak selalu, anjing – anjing itu akan menggigit mayung agar mayungnya bertekuk lutut. Nah, ketika terkena gigitan anjing ini maka mayungnya pun akan menjadi najis juga, dan untuk itu ada tata cara untuk membersihkan agar mayung – mayung ini menjadi layak dikonsumsi. Ada semacam ritual dan bacaan – bacaan untuk melakukan itu.

Ketiga, hari baik. Para penganyang sangat menghindari kegiatan perburuannya dimulai pada hari jumat, mereka bilang pamali, saya berasumsi ini karena di hari jumat seharusnya mereka beribadah bukan malah masuk hutan. Selain itu, sebelum berburu ke hutan biasanya para penganyang ini berkonsultasi dahulu dengan para Sanro untuk menentukan kapan sebaiknya perburuan dilakukan. Sanro ini semacam dukun atau pemangku yang mengetahui sesuatu yang orang lain belum tentu tahu.

Dan ada sesuatu yang unik dari kisah para penganyang ini. Karena kuatnya nilai – nilai islam tadi, penganyang juga tidak memburu babi meski jumlahnya tak kalah banyak dengan jumlah rusa. Disamping itu babi punya kecenderungan melawan ketika diburu, banyak anjing yang telah menjadi korban ketika mereka mencoba melumpuhkan babi. Dan pak Dali membeberkan hipotesa unik mengenai perilaku rusa dan babi ini. Bagi rusa, ”pun pada akhirnya kami mati nanti ketika diburu, kami harus tetap berlari, sampai henti ini kaki – kaki”. Dan bagi babi, ”pun pada akhirnya kami mati ketika diburu nanti, kami akan tetap melawan, sampai tetes penghabisan”.

pak Dali, penganyang

Kembali ke kisah pak Dali ketika ia berburu meski harus menghalau guntur. Setelah lelah mengikuti suara anjing – anjing  pemburunya yang nampaknya masih tiada henti mengejar rusa buruan mereka, ia beristirahat sejenak. Tak percuma memang kemarin pak Dali dan kawan – kawan menembus hujan dan memaksa masuk hutan, kini tinggal menunggu mayung itu kelelahan dan akhirnya bisa dibawa pulang. Sebentar ia menggulung tembakau dengan daun lontar, ia hisap rokok jontalnya kemudian.

            

*cerita ini disampaikan ketika pak Dali telah tidak menjadi penganyang lagi. Sampai kini perburuan rusa di Sumbawa masih dilakukan. Meski kegiatan ini agak bertentangan dengan prinsip – prinsip pecinta lingkungan, namun penganyang melakukannya untuk hidup bukan hanya sekedar pemuas kesenangan, dan secara tidak langsung mereka juga ikut menjaga kestabilan populasi hewan di hutan, karena ternyata tidak banyak ditemukan predator utama bagi rusa dan babi di hutan itu. Satu – satunya predator utama didalam hutan adalah ular phyton dan itupun jumlahnya tidak banyak.

penganyang & hasil perburuannya

Iklan
Categories: tulislepasbebas | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: