#FiksiKopi 6

Kring..kring

Selularku berdering, kuangkat bersamaan dengan gelas kopiku, suara lembut yang telah kukenal sebelumnya diujung sana.

”haloo, maaf ya kalau kemarin akhirnya ga bisa nemuin kamu di hari ulang tahunmu.”

”iya, ga apa..katanya kemarin dapat masalah dijalan ya? terus gimana?”,

”not a big deal, cuma jeepku aja yang tiba – tiba ngadat karena kepanasan mungkin”. Memang nampaknya aku belum bisa kabur dari Jatiluhur. Pembicaraan tentang kabar dan permintaan maaf kepada gadis manis yang tak berhasil kutemui kemarin ini berlanjut ke cerita tentang kopi. Sambil kuseruput lagi kopiku, kopi yang sengaja ia bungkuskan untukku sebelum berangkat ke waduk ini tempo lalu. Kopi bawen.

Kopi bawen ini adalah kopi yang dibudidayakan dikota kecil di selatan Semarang dekat Magelang. Jenisnya robusta, rasanya kuat tapi kurang beraroma. Kopi ini sebenarnya adalah warisan tanam paksa pemerintah kolonial Belanda, masyarakat Bawen semula membenci kopi ini karena mereka dipaksa menanamnya. Tapi dibalik tanam paksa itu terdapat kejelian Belanda, dalam hal ini Belanda memang mahir dibidang geografi. Mereka melihat potensi daerah yang memang punya iklim serta topogrfi yang pas untuk kemudian memberdayakannya. Untuk hal ini Bawen berada di wilayah ketinggian 300 – 600 mdpl, dengan curah hujan yang cukup tinggi, kelerengan 40%, serta jenis tanah yang sesuai sehingga membuatnya cocok untuk ditanami kopi.

Namun sebenarnya ketika awal ditanam dulu kualitas kopi bawen ini tidak cukup baik, ini karena petani kala itu menanamnya dengan terpaksa. Sekarang, kopi Bawen sudah mendunia dengan kualitas yang mampu bersaing dengan jenis – jenis kopi lainnya.

Ngomong – ngomong aku tahu tempat ngopi enak didekat Bawen itu, disitu kita bisa sembari wisata kopi, melihat proses dari kopi ditanam hingga disajikan. Didekat tempat tersebut juga ada sebuah museum, museum kereta. Ah, tapi sebenarnya aku lebih suka ngopi di warung – warung kecil, bersama peminum kopi lainnya nanti kita bisa bertukar cerita, bagiku budaya ngopi itu adalah budaya kebersamaan.

Diujung sana ia sepertinya masih asik mendengarkan ceritaku, tapi pembicaraan semestinya disudahi, karena bulan semakin meninggi. Kututup teleponku setelah dua kata, selamat malam. Kemudian sayup terdengar dari perangkat audioku…

♫ to know that you feel the same as i do is a three-fold utopian dream.. ♫

“Ahh shit..kenapa lagunya incubus yang itu sih?!”, kutenggak habis kopi bawenku, sembari ku shutdown perangkat yang baru saja mengeluarkan unexpected sound.

Oh iya, setelah selama ini..namaku Ari.

*diambil dari kumpulan cerita fiksi ber-taggar #FiksiKopi dari akun twitter @antorology

Iklan
Categories: prosa | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: