#FiksiKopi 4

Malam ini kenapa begitu terang?, terasa ada lampu yang terus menyorot dari balik pepohonan pinus yang tak begitu rapat. Cahaya itu kemudian berkaca pada muka air kopiku. Ah, ternyata itu bulan. Lalu kupandangi bulan yang membulat merah itu dari balkon villa tempatku menginap. Pucuk – pucuk daun teh perkebunan malabar ini kemudian seperti mengeluarkan fosfor karena pendaran cahaya bulan. Kopiku tinggal setengah gelas saat kubuka komputer jinjingku, kutuliskan tentang apa yang kudapat di Jatiluhur kemarin, sambil memutar beberapa lagu di pemutar musikku.

Aku mengira waduk ini seperti Gajah Mungkur. Di waduk Gajah Mungkur aku bisa paralayang, disini, aku rasa aku perlu merisetnya lagi. Ya, memang selain sedang ada yang kukerjakan disini akupun sambil sedikit melakukan penelitian kecil mengenai angin dan beberapa hal lain untuk mengetahui apakah bisa disekitar waduk Jatiluhur ini  para pehobi paralayang melakukan kegemarannya. Dan memang karena aku juga menggemari paralayang.

Paralayang adalah olahraga baru di Indonesia, mulai berkembang di awal 90an, dan yang mempelopori adalah orang-orang gila dari Jogja. Dulu sebutannya terjun gunung bukan paralayang, mungkin karena ini semacam terjun payung dari puncak gunung maka mereka menamainya seperti itu.

Mereka yang memperkenalkan olahraga ini mencoba melakukan penerbangan pertamanya di sekitar ’gumuk’ di pantai parangtritis. Gumuk adalah bukit – bukit pasir yang terbentuk dari pasir pantai, tepatnya pasir pantai parangtritis yang terbawa angin. Lereng pegunungan sewu yang berada ditimur parangtritis menjadi ’tembok’ pembalik angin yang mana kemudian angin ini membawa pasir pantai kesebelah baratnya sehingga terbentuklah gumuk. Angin balik ini juga yang membuat tempat ini jadi pilihan para ’glider’ (sebutan untuk penerbang paralayang).

Glider biasanya memanfaatkan dua jenis angin untuk menerbangkan ’pesawat’ (sebutan untuk parasut) mereka. Yang pertama adalah angin kencang yang menabrak lereng atau dynamic lift, dan yang kedua adalah angin naik karena perbedaan suhu atau thermal lift.

Jika dilihat ini memang olahraga nekat, tapi sebenarnya paralayang adalah suatu kegiatan yang butuh ilmu dan perhitungan yang tepat. Perlu kemampuan membaca bentuk medan (ketinggian dan lereng) dan prediksi arah serta kecepatan angin untuk menentukan lokasi terbang.

Tapi semua bisa di pelajari. Aku pun baru di olahraga ini, sejatinya aku hanya seorang pendaki, dan terakhir aku mendaki merbabu beberapa bulan lalu, hmm..aku jadi ingin juga mencoba terbang dari puncak gunung itu.

Ah, laporan..!!

Tak sadar kopiku pun telah tiris, dan laporan tentang Jatiluhur harus segera kuselesaikan. Hmm..Jatiluhur, tiba – tiba aku jadi ingat gadis yang giwangnya tersangkut di kausku kemarin, sampai kemudian…

♫ kamu mungkin bukan yang terindah..tapi kau bisa isi hatiku, jiwaku selalu..ooo yeaa ♫

…terdengar sebait lirik dari laptopku, dan seketika bayang gadis giwang hilang, diganti sosok manis disana yang besok merayakan hari besarnya.

*diambil dari kumpulan cerita fiksi ber-taggar #FiksiKopi dari akun twitter @antorology

Iklan
Categories: prosa | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: