#FiksiKopi 3

Kuseruput secangkir kopi sementara tetes air masih mengalir dari rambutku yang basah ke tengkuk yang kemudian terhenti disehelai tali kekang. Terimakasihku kupersembahkan untuk seorang pemuda yang entah siapa bernama, karenanya aku tak jadi mati tenggelam dan karenanya aku masih bisa nikmati kopi ini, hmmmh..sayang terimakasih itu tak sempat kusampaikan. Masih dapat kurasakan lengannya yang tak begitu kekar namun mampu menarikku dari cekik air Jatiluhur. Denyut nadinya hangat ketika lengan itu melingkari tubuhku, hangat sehangat kopi ini. Dan hingga kini aku benar-benar tak tahu siapa pemuda itu, ia hanya meletakkanku ditepi waduk seketika selesai menolongku. Setelah itu ia hilang ditelan hutan bersama raungan jeepnya yang hitam.

Ingatanku mengenai pemuda itu kemudian berganti menjadi ingatan tentang Jatiluhur, tempat yang nyaris membuatku mati. Jatiluhur dibangun di era ketika politik mercusuar membahana, tiga pilar gencar dikoar-koar kala itu. Tapi Jatiluhur dibangun dengan tujuan, bukan sok-sokan. 450 km persegi lahan rencananya akan tercakupi oleh suplai air dari waduk ini. Betapa itu adalah berkah untuk para petani, banjir bisa teratasi, dan yang dihilir akan dapat banyak manfaatnya. Dan sejatinya Belanda pernah juga membuat bendung seperti ini disekitar Bandung, kini bendung itu menjadi cakupan Jatiluhur juga, bendung Walahar namanya.

Adalah Prof. Dr. Ir. Sedyatmo yang mengarsiteki pembangunan waduk Jatiluhur ini, ia menyuntik sesuatu yang unik didalamnya. Prof. Sedyatmo membuat 17 mesin pompa untuk mengairi sungai Tarum Barat menuju Bekasi, 8 pintu air untuk mengisi bendung Walahar, dan 45 pompa lagi untuk mengairi sungai Tarum Timur sebagai pendukung irigasi sawah-sawah di Karawang. 17-8-45, tanggal merdeka. Insinyur jenius ini memang idolaku yang mahasisiwi teknik sipil ini. Hmm..kuseruput lagi kopiku.

Manfaat teknologi waduk sebenarnya sudah disadari sejak Belanda ada, kebun-kebun teh di kawasan puncak Bogor yang jadi pemicunya. Sebelum menanam teh, perkebunan diwajibkan membangun pintu air disepanjang Ciliwung serta membuat tandon-tandon air di wilayah pinggiran Batavia. Hal ini dimaksudkan sebagai kontrol dan tindakan preventif untuk mencegah banjir di Batavia, selain itu untuk menunjang pertanian di sekitar wilayah Batavia itu juga.

Lalu pikirku kembali ke pemuda yang menyelamatkanku tadi, kuingat betul jeepnya yang meninggalkanku begitu saja, warna hitam. Ahh, ini mungkin karena kopi yang baru saja kuminum yang juga berwarna hitam.

Kemudian…

♫ hector was the first of the gang with the gun in his hand..♫

Kudengar lantunan lagu entah darimana.

Kuabaikan lagu itu, hanya pikirku yang tiba-tiba bertanya, “darimana dana untuk membangun waduk ini ketika itu?”. Dan tiba-tiba….

“jika dirunut, sang paman adidaya yang ada di balik Jatiluhur ini. Si beruang merah hanya melihat menara-menara suar dan memberikan dana hanya untuk ‘menara-menara’ itu saja, gelora yang di Jakarta salah satunya”. Suara orang yang berbicara barusan seperti tak asing ditelingaku, rasanya belum lama kumendengar suara ini. Kutolehkan wajah kearah sumber suara, dan ternyata itu adalah si pemuda yang menolongku tadi, tapi apa maksudnya ’beruang merah’?, kenapa ia berbicara yang merupakan jawaban dari pertanyaanku sebelumnya? dia bisa baca pikiranku juga??!!..oh God!!.

”giwangmu tadi tanpa sadar tersangkut dikausku, kudatang untuk mengembalikannya”, pemuda ini kemudian menaruh giwang yang katanya milikku itu diatas meja, setelah kemudian ia kembali pergi begitu saja, dan aku pun baru sadar jika lagu yang kudengar tadi itu bersumber dari Jeep hitamnya.

Cerita ini pun habis beriring kembali hilangnya Jeep sang pemuda misterius, yang setelah dikejauhan jeep itu seperti mengeluarkan suara mendesis, dan kopiku pun kini sudah tak lagi manis.

*diambil dari kumpulan cerita fiksi ber-taggar #FiksiKopi dari akun twitter @antorology

Iklan
Categories: prosa | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: