#FiksiKopi 2

Willys hitam melaju kencang menembus rerimbunan, segara dikirinya, Jeep hitam tua itu seperti ketakutan dikejar matahari tenggelam. Radio tape berkaset melantunkan lagu mengisi suasana sementara willys hitam terus menggerus jalan.

♫ i’m a lot like you..so please, hello, I’m here…♫ 

”ini lagu siapa? kita mau kemana sih?”,

Tiba-tiba bau hangus tercium dari si willys, plat remnya terbakar setelah seharian mengarung jalan.

”oke, bagaimana kalau kamu denger aku cerita aja? Daripada dengerin lagu yang ga kamu tahu”, aku menyambut pertanyaannya, gadis yang semenjak tadi duduk disampingku, setia menemaniku mengemudi.

”hmm, boleh, tapi ini kita mau kemana?”. kubiarkan ia tetap penasaran.

Kemudian willys kembali meraung, sementara aku memulai cerita.

”kamu tahu? ditahun 70an ketika Indonesia sedang gencar-gencarnya membangun, ada beberapa orang yang juga gencar mencoba ‘mengacak-acak’ itu semua.”

”setiap negara yang sedang membangun pasti butuh energi, tapi kita tak mau seperti Cina yang sangat bergantung pada batubara. Kemudian disaat seperti itu ada yang datang menawarkan solusi yang lebih ramah, solusi yang ramah lingkungan tepatnya.”

”kita ini negara tropis yang tingkat curah hujannya tinggi, potensi air pasti melimpah di negri ini. Oleh karena itu, kenapa tidak dimanfaatkan untuk pembangkit energi?”

”lalu ’mereka’ menawarkan, bagaimana jika membangun pembangkit listrik tenaga air? Membuat bendungan kemudian menambahkannya turbin yang dapat menghasilkan listrik.”

”Wait! Siapa itu, ’mereka’?”, gadis manis disebelahku ini memotong penuh rasa penasaran.

”mereka adalah yang tadi gencar mencoba ’ mengacak-acak’, setelah ini kamu akan tahu. Dan setelah ini juga ceritanya akan melibatkan hal – hal yang berbau konspirasi, akan terdengar semakin nyinyir memang, tapi ya memang demikian”, sambil sedikit mengernyitkan dahi ia mendengar penjelasanku yang nampaknya belum membuatnya puas.

”Chile, Argentina, dan Brasil telah melakukan pembangunan bendungan-bendungan untuk energi dinegaranya, dan mereka berhasil. Oleh sebab itu, kenapa Indonesia tidak?”

”Kemudian akhirnya proyek besar itu dilakukan juga. Tapi pembangunan butuh biaya, dan ini proyek besar, dan ’mereka’ juga sudah siap membantu.”

”Jatiluhur dan Gajahmungkur adalah dua diantara bendungan Indonesia yang terbesar, dan membangunnya seperti membangun piramida Ghiza di Mesir, minta ’korban’…”

”Maksud kamu tumbal? ih kok jadi mistis”. Aku tersenyum mendengar itu, retoris gadis ini memang selalu menggemaskan.

”korban pertama : Alam. Bayangkan, sungai ditahan tembok raksasa, keadaaan hulu dan hilir pasti akan berbeda setelahnya, hal ini seperti melempar batu ketengah telaga yang tenang dan telaga itu adalah siklus hidrologi”

”aku sebenernya ga ngerti apa itu siklus hidrologi, tapi aku bisa nangkep yang kamu maksud. Teruskan!”, sambil senyum ia mengatakan itu, dan makin ingin kucubit saja pipinya.

”korban kedua : Warga yang harus pergi dari desa asli ketempat yang lebih baik, katanya. Dan ini juga demi mendukung program yang sedang gencar kala itu, alasannya.”

”transmigrasi maksud kamu?, menurutku program itu bagus kok. Bisa membantu pemerataan pembangunan juga dan para transmigran itu bisa membagi ilmunya kepada penduduk asli disana yang mungkin ketinggalan dari mereka.” aku menoleh kearahnya mendengar itu.

Aku kembali ke kemudi sambil menanggapi pernyataan gadis manis disebelahku ini tadi,

”ya memang, ketika program itu sudah berjalan kita bisa melihat sisi baiknya. Namun ketika baru dimulai mereka yang dipindahkan ini merasa seperti dikorbankan, seperti dikeluarkan dari tempat yang mereka sudah merasa nyaman disana. Dan karena sebelumnya tak diberi bekal yang cukup mengenai daerah tujuan, akhirnya terjadi konflik oleh penduduk asli disana, itu salah satu sisi buruknya”.

”mmm, aku bisa terima alasan itu, tapi kamu terlalu nyinyir. Eh tapi kamu memang sudah bilang ini akan jadi nyinyir yaa?hehe..oke, lanjutkan!”

”korban ketiga : Anak cucu. Ternyata, bantuan yang ’mereka’ berikan itu, sengaja atau tidak, menyisakan utang bagi negri ini sampai sekarang, dan itu terus berlanjut dengan dalih biaya perawatan bendungan.”

”hmm, aku mulai tahu siapa yang kamu maksud ’mereka’ itu, tapi menurutku kamu terlalu nyinyir. Oke, sekarang satu pertanyaan belum terjawab, sebenarnya kita ini mau kemana??. Eh tapi tunggu, kok aku kenal ini jalan”. Gadis disebelahku ini mulai sadar kemana ia ingin kubawa.

”Cuma mau antar kamu pulang kok, maaf ya udah ngebiarin kamu kedinginan kena angin malam, semoga suka sama ceritanya.”

♫ aku adalah sang air ketika haru mengalir, gemericiknya merdu ilhami menganak sungai dihati..♫

Melantun kembali sebuah lagu mengantar willys hitam dilenyapkan malam.

*diambil dari kumpulan cerita fiksi ber-taggar #FiksiKopi dari akun twitter @antorology

Iklan
Categories: prosa | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: