#FiksiKopi 1

Secangkir kopi tersaji dimeja kerjaku, sambil kubaca berita perkembangan ekonomi Indonesia dari layar 14 inchi yang terus berkedip, investasi disini dan masa depan Indonesia. Hmm, kemudian timbul pertanyaan, “punyakah Indonesia sebuah masa depan?”, lalu kutuang segala resah itu ke salah satu media sosial yang sedang beken saat ini.

“oke, jangan jadi hipokrit..ekonomi adalah penopang masa depan, bukan hanya untuk individu, tapi juga untuk sebuah negara..ya, Indonesia”. Sejatinya ekonomi Indonesia selama ini terselamatkan dan tetap bisa bertahan karena satu hal, MIGAS. Tapi kini cadangan migas sudah tipis, diperkirakan mungkin hanya mampu bertahan kurang lebih 25 tahun lagi. Lantas apa yang akan dilakukan terhadap ekonomi kita setelah hal yang hanya mampu bertahan seperempat abad lagi itu habis?. Tadinya kita adalah anggota OPEC (organisasi pengekspor minyak dunia) sampai akhirnya kita jadi negara net importir minyak (negara yang mengekspor minyak mentah kemudian mengimpor lagi minyak jadi, namun dalam jumlah yang tidak seimbang antara yang diekspor dengan yang diimpor). Lalu sekarang kita keluar dari keanggotaan OPEC tersebut. Lihat, betapa belum seperempat abad saja migas kita sudah kolapse.

Akan tetapi masih banyak sebenarnya yang bisa menghidupi negri ini, pariwisata misalnya, atau jika mengandalkan komoditi ekspor kita bisa mengandalkan kopi. Indonesia merupakan negara pengekspor kopi terbesar ketiga di dunia. Perputaran uang di komiditi ini adalah nomor dua terbesar yang bisa diberikan kepada negara setelah MIGAS. Lihat betapa potensialnya.

Kemudian melihat kondisi regional, sebentar lagi (bahkan sudah) Singapura akan jadi Swiss baru, khususnya untuk kawasan Asia setelah Liechstenstein menggantikan Swiss untuk kawasan Eropa. Akan banyak negara menyimpan uangnya di Singapura, khususnya negara-negara Asia. Dan dengan singapura yang jadi Swiss baru ini maka Indonesia sudah seharusnya bersolek agar modal yang menumpuk disana berpindah dan melirik Indonesia yang sudah cantik.

Selain kopi tadi, Indonesia juga punya potensi lain. Tanpa bermaksud menyinggung, kita punya buruh murah bahkan termasuk yang termurah, dan dengan kekuatan populasi ini kita seharusnya bisa menarik investor atau perusahaan raksasa untuk lebih banyak membuat pabrik disini. Dengan regulasi dan kesepakatan yang menguntungkan semua pihak tentunya.

Dan sebenarnya yang membuat mereka (investor) enggan menanamkan modalnya disini adalah pungli. Satu hal ini yang membuat berusaha di Indonesia jadi mahal, ditambah lagi semua orang seolah-olah mendadak jadi preman ketika ada yang buka usaha. Dari usaha kecil yang ”dipremani” mereka yang bertato sampai usaha besar yang ”dipremani” mereka yang bercukur rambut rapi dan berdasi, dan mungkin membuat usaha jasa penyedia preman ini akan juga jadi potensi disini?haha..gila. YA, perilaku korupsi seperti itu memang sudah betul-betul menggila. Mungkin kalau boleh mengutip aku ingin mengambil slogan pasukan cakrabirawa : untuk menghentikan semua ini, ”cabut sampai akar-akarnya”.

Hal lain yang menjadi kendala investasi di Indonesia adalah stabilitas keamanan, konflik horizontal yang tak berkesudahan. Ada saja yang berkelahi mengenai siapa kamu siapa saya. Masalah kita berbeda bukankah memang sudah ada sejak lahir? seng masalah torang bugis kulo batak, bukankah itu seharusnya malah bisa jadi daya tarik?. Namun tak dipungkiri memang jika konflik-konflik itu lahir dari rasa ketidakadilan, maka adillah, setiap kita.
Lalu punyakah Indonesia sebuah masa depan? Jawabannya, PUNYA. Bahkan jika kiamat itu lusa aku yakin Indonesia akan tetap bertahan setidaknya hingga besok.

(tit tut tit tut)..sebuah pesan masuk ke selularku ini malam, sebuah pertanyaan didalamnya,

”kamu ngapain sih? ga ada kerjaan banget malam-malam begini”. Hmm, ternyata dia, kemudian pesan itu pun kubalas,

”i just write something yang buat aku resah aja”. lalu berbalas lagi,

”buat apa? cari perhatian? better you go to sleep..”, kurasakan entah kalimat itu adalah sebuah perhatian atau apa. Tak lama lampu kamarku lalu mati, begitupun LED 1,5 x 2 inchi. Kemudian setelah itu yang mengeluarkan sinar hanyalah bulan yang menggantung di peraduan.

*diambil dari kumpulan cerita fiksi ber-taggar #FiksiKopi dari akun twitter @antorology

Iklan
Categories: prosa | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: