Tulisan Lama

Katanya, saya ingin jadi petani saja.

Teringat sebuah percakapan dengan pemuda kecil pasca gunung pecah. Yang kini gunung itu laksana yoni. Dan karna kelemahan saya, tak ingat saya siapa pemuda itu bernama, sayangnya. Yang jelas ia bercerita, tentang duka dimana ladang jagung ayahnya telah berubah menjadi seperti orang-orang disurau yang bersujud berjamaah. Nampak serempak mereka menggunakan sarung-sajadah yang sama, warna debu, abu-abu. Ladang yang tak lagi sama seperti yang sering ia lihat tiap pagi, petak yang tak seberapa namun menghidupi. Bagai ada meteor berisi abu yang tiba-tiba pecah, seperti iklan coklat sereal yang ia lihat di televisi, bedanya jagung-jagung ayahnya kemudian mati.

Pemuda kecil ini cukup pintar, menurut kacamata saya. Pendiam yang kritis nan berisi. Sorot matanya menyimpan keingintahuan akan ilmu yang mungkin belum menjamah sudut-sudut desa negri ini, penasaran. Dan rasa itu pula yang menggelitik saya ingin bertanya-tanya.

Singkat cerita, saya tanyakan ia sebuah cita-cita, dan jawaban yang menurut saya cukup mengejutkan terlontar dari pemuda kecil nan potensial dari desa yang mana ladang-ladang pertaniannya baru saja hancur. “Saya ingin jadi petani saja, seperti bapak, tapi tidak, saya mau ladang jagung yang lebih luas, yang nanti akan saya beli dari sisa hasil panen ladang jagung yang saya punya sebelumnya, yang sedikit demi sedikit kemudian jadi seluas-luasnya, supaya kita semua bisa makan”. Tak bisa berkata-kata, saya hanya bilang kamu harus sekolah yang pintar agar nanti jadi petani jagung yang pintar.

Bersyukur saya mendengar itu, ternyata masih ada bahkan itu dari pemuda yang kecil, yang telah luluh lantak desanya akibat bencana, yang bercita-cita ingin jadi petani saja. Tak terbayang jika uang tidak ditemukan, dan tiada lagi yang ingin jadi petani, mau makan apa kita nanti?. Atau, uang sekarang telah ditemukan, namun tiada yang berminat bercocok tanam, akankah kita makan uang?.

Bertutup sesimpul senyum ini obrolan, dan si pemuda kecil pun kembali ke permainan.

magelang, november 2010

Iklan
Categories: tulislepasbebas | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: