The Bang-Bang Club (Review Film)

Beberapa waktu lalu saya menonton sebuah film yang menurut saya cukup bagus. Tapi sebelumnya, ada yang pernah ingat atau mendengar nama Kevin Carter?, dia adalah jurnalis perang yang kemudian bunuh diri akibat beban pekerjaan yang ia tanggung. Lebih tepatnya Kevin Carter ini adalah seorang fotografer perang (combat photographer). Salah satu fotonya pernah mendapatkan penghargaan Pulitzer, semacam Nobel untuk fotografi, dan inilah foto “fenomenalnya” itu.

Yak, film yang akan saya review ini adalah film yang merupakan kisah nyata yang bercerita tentang Kevin Carter beserta kawan-kawannya ketika menjalani tugas sebagai fotografer perang di afrika selatan. Ia dan kawan-kawannya ini kemudian mendapat julukan (seperti judul filmnya),

THE BANG-BANG CLUB…

Bermula pada sebuah perjumpaan antara Kevin (Taylor Kitsch, pemeran Gambit dalam film Xmen-origins : Wolverine) dengan Greg Marinovich (Ryan Philippe, pemeran Louis Roulet dalam film The Lincoln Lawyer) pada sebuah kejadian pembunuhan yang mereka sedang ambil gambarnya. Pertemuan singkat itu ternyata membawa persahabatan antara Kevin dan Greg yang sama-sama fotografer perang, bedanya ketika itu Greg masih jadi fotografer lepas yang tak bertuan sedangkan Kevin adalah fotografer sebuah media cetak.

Cerita serunya sudah dimulai ketika ternyata setelah kejadian pembunuhan tadi Greg memiliki rasa penasaran yang besar untuk mengambil gambar lebih banyak lagi. Perlu diketahui bahwa setting dari film ini adalah ketika Afrika Selatan masih dibayangi politik Apartheid. Digambarkan bahwa terjadi perang terselubung yang dikobarkan oleh pemerintah yang berkuasa ketika itu untuk mengadu domba rakyat disana. Nelson Mandela, yang sedang berjuang mengenyahkan Apartheid di negrinya mendapatkan perlawanan dari bangsanya (afrika) sendiri. Mereka adalah Inkatha, milisi sipil Zulu yang mendapat dukungan penuh dari pemerintah sebagai kontra revolusi Mandela yang ketika itu mendirikan partai ANC (African National Congress) sebagai kendaraan politiknya. Nah, kejadian pembunuhan tadi dilakukan oleh Inkatha kepada seseorang yang diduga pendukung ANC.

Karena penasarannya itu Greg pun nekat masuk kemarkas para Inkatha, kejar-kejaran sempat terjadi karena Greg dicurigai sebagai mata-mata oleh orang-orang Inkatha, atau paling tidak ia dikira orang asing yang mencoba “merusak” tempat itu. Beruntung akhirnya Greg malah bertemu dengan pemimpin Inkatha-nya sendiri. Setelah memberi penjelasan Greg pun diperkenankan untuk mengambil gambar, dan ditengah aktivitasnya memotret ditempat itu Greg kembali menyaksikan pembantaian, dan ia pun tak melewatkan setiap momennya.

Gambar-gambar dari markas Inkatha tadi kemudian menuntun Greg bertemu kembali dengan Kevin dikantor sebuah media cetak. Dari situ kini Greg menemukan “Tuan” untuk foto-fotonya, dan dari situ pula ia memulai petualangannya “memburu” momen bersama Kevin dan dua teman lainnya yaitu Ken Oosterbroek (Frank Rautenbach) dan João Silva (Neels Van Jaarsveld). Ada satu lagi tokoh yang cukup sering muncul dalam film ini, dia adalah Robin Comley (Malin Akerman) yang merupakan editor foto yang kemudian menjadi kekasih dari Greg Marinovich.

Sudut Pandang Lain Dari Apartheid

Cerita dalam film ini menurut saya cukup menarik. Apartheid yang berkobar diawal 90-an disuguhkan dengan cara yang berbeda. Kita tidak dituntun untuk menentukan siapa yang salah dan siapa yang benar, apakah ANC atau Inkatha. Ada satu scene yang menggambarkan ketika ANC pun punya kekejian yang sama dengan Inkatha. Sudut pandang yang diambil disini adalah sudut pandang para fotografer, yang sangat disesalkan hanya punya kemampuan mengambil gambar saja. Dan kekejian ANC itu dengan sangat “beruntung” dapat diabadikan oleh Greg Marinovich yang kemudian mengantarnya memperoleh penghargaan Pulitzer juga.

Depresi Sang Pembidik Lensa

Selain mengenai sudut pandang Apartheid tadi, film ini juga menggambarkan kondisi psikis para fotografer perang. Hasil bidikan yang kebanyakan berupa gambaran kekerasan ternyata mengganggu mental mereka dalam bekerja juga. Ketika mereka dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka sesungguhnya hanya mengeksploitasi penderitaan orang-orang. Digambarkan ketika suatu saat Kevin Carter merasa cukup depresi dengan keadaan sekelilingnya di Afrika Selatan, dimana pada saat itu ia juga sudah tidak menghasilkan foto-foto bagus lagi, ia pun memutuskan untuk pergi ke Sudan. Namun hal yang sama ia temui disana, penderitaan. Dan di Sudan lah Kevin berhasil mendapatkan foto fenomenal yang telah saya tampilkan di awal, yang kemudian dari foto itu ia kembali “Jaya”.

Film The Bang-Bang club ini menyuguhkan lebih kurang dua jam petualangan para fotografer perang yang dikemas cukup apik dengan alur serta angle-angle yang tidak membuat pusing kepala. Didalamnya juga disisipi beberapa trik untuk menjadi fotografer perang yang baik, bagi yang memerhatikan tapi. Untuk para pencinta fotografi saya anjurkan untuk menonton film ini, terutama yang ingin jadi fotografer perang. Dan sebuah kalimat apik pun saya kutip, “Forget your Long-Lens Bru, stuff only looks good up close”

Demikian review dari saya, Sekian, terimakasih kembali.

=)

Iklan
Categories: tulislepasbebas | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: