Sunyi yang Tiba-tiba di Pinggiran Jakarta

Pinggiran Jakarta, tiba-tiba saja seperti senyap sendiri. Meski masih saja saya melihat hiruk-pikuk orang-orang berkendara. Entah mengapa, sepertinya temaram lampu malam ini terasa begitu syahdu. Masih saya tempatkan kaki di pedal agar tetap laju terkayuh ini sepeda, menikmati semilir angin dijalan ramai namun tanpa suara.

 

Saya melihat wajah-wajah yang tengah bersenda. Tawa senyum mereka terlihat jelas diantara kursi-kursi dan meja-meja, namun saya tak mampu mendengarnya, malam ini terasa begitu sepi. Seorang bocah terpekur dibawah lampu jalanan, diletakkan kepalanya diantara lutut yang ia peluk.

 

Diatas aspal kemudian sebuah rasa menari-kan sesuatu didalam rongga dada dengan sangat binal. Menyeruak masuk berperantara oksigen, yang kemudian meledak menjadikan udara sebagai sumbunya.

 

Ohh, datanglah kamu wahai wangi pagi, biar mereda panas ledakkan di rongga dada ini. Muncullah dan perlihatkan senyum berbingkai mata biji bunga mataharimu, sesungguhnya tiada lagi selain itu pengobat rindu.

 

Saya kembali lalu tanpa suara, tanpa mendengar apa-apa juga. Sunyi yang tiba-tiba dipinggiran Jakarta.

Iklan
Categories: prosa | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “Sunyi yang Tiba-tiba di Pinggiran Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: