Tujuh Belasan

Tak ada yang istimewa, bahkan dihalaman rumah saya, atau dijalan-jalan kampung yang biasanya tergantung bendera-bendera kecil merah dan putih bukti kita ‘masih Endonesa’. Lalu terngiang pekik lantang ketika dulu saya masih suka menyanyikan lagu 17 agustus saat upacara bendera dihalaman sekolahan,

 

Sekali merdeka tetap merdeka, selama hayat masih dikandung badan kita tetap setia, sedia mempertahankan Indonesia…

 

Kemudian muncul sebuah pertanyaan, “apakah badan ini masih mengandung hayatnya?, Hayat ke Indonesiaan, yangkanmenjelma menjadi sebuah kesetiaan dan kesediaan menjaga negeri ini”.

Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka wajar jika tak ada keinginan untuk mempertahankan. Tapi kenal saja tak cukup, harus ada proses memberi dan menerima setelahnya agar ada rasa memiliki. Lalu, sudahkah kita memberi dan setelah itu sudahkah kita menerima?. “Jangan kau tanyakan apa yang negara telah berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang telah kau berikan untuknya”, buat saya itu omong kosong podium ketika kita baru saja merdeka.

Tak heran saya ketika kabupaten Buton meminta otonomi menjadi propinsi Buton Raya, atau mungkin bisa saja nanti mereka minta merdeka. Karena lebih dari dua dekade hartanya dikuras dan hanya masuk kepundi-pundi sebagian orang di Jakarta, atau jika kembali paling mentok hanya sampai di Kendari, dan penghasil aspal terbesar hanya kebagian jalan utama yang masih berupa campuran batu dan tanah kasar. Kemudian tertawa saya mendengar cerita tentang jet-jet usang dan kapal perang kita yang mondar-mandir ketika pusat mendapat isu salah satu pulau indah diselatan dijual ke pihak asing. Kemana mereka ketika ‘pihak asing’ yang melihat potensi dipulau itu membangun resort indah disana, yang sejatinya ternyata pulau mangudu itu tidak dijual tapi hanya ‘dipinjamkan’ untuk pelesir saja, lalu kemudian isu hilang entah dengan lobi yang macam apa.

Namun bila cinta adalah keikhlasan, saya pun telah melihat itu. Dimana seorang bapak tua mendamaikan suku Dayak dan Madura ketika berebut lahan, ia mungkin tak ingin melihat darah tertumpah dari tubuh-tubuh saudaranya, yang bahkan se-Suku pun bukan. Ingat betul saya apa yang ia katakan, “kita ini satu bangsa, tanah ini tanah kita, akan lebih baik jika diolah bersama-sama”. Lalu ada lagi cerita tentang satu pleton tentara diujung selatan perbatasan negeri ini, yang rela meninggalkan anak istri dengan hanya membekali  gaji yang tak seberapa. Berteman sepi dipulau yang memang hanya berhuni sekawanan rusa, yang kadang mereka tembaki juga karena tak mampu peluru bedil-bedilnya itu mengenai kapal nelayan asing yang asik menyedoti ikan-ikan kita. Ya, bedil mereka memang hanya mampu membidik rusa. Tapi mereka tetap disana, menjaga setiap beranda depan negara kita.

Lalu, masih adakah hayat itu dikandung badan?, ketika mereka lebih bangga mengibarkan bendera-bendera golongan. Yang mana golongan-golongan itu mereka anggap mampu memberi ketenangan, atau setidaknya memberi mereka kuasa atas jalan. Negara memberi mereka apa? Entahlah.. yang jelas, agar tubuh ini masih bisa merasakan apa itu cinta dan apa itu rasa sayang maka berilah ia makan, jaga dan jaminkan kesehatannya, didik ia agar lebih cerdas mencintai.

 

17 agustus tahun ‘empat lima, itulah hari kemerdekaan kita…jangan pernah berubah.

 

saya, kamu, dia, mereka..Indonesia

Iklan
Categories: tulislepasbebas | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: