Seorang gadis cantik asli Indonesia diperkosa ayah kandungnya sendiri..

Judul diatas terasa lebih menarik nampaknya. Ya, seorang gadis cantik asli Indonesia diperkosa ayah kandungnya sendiri kemudian dijual untuk memuaskan nafsu para ‘dewa’. Hah, seperti headline koran kuning saja.

Bali, pulau indah pulau dewa-dewi. Segala khayalan tentang surga ada disana. Elok lentik laku budaya, becik indah hamparan alamnya. Saya pernah tahu dan melihat kejeniusan orang-orang bali disalah satu pulau kapur diujung tenggara Sulawesi, seperti penyihir mereka menyulap tanaman padi jadi bisa tumbuh dan berkembang didaerah karst yang kebanyakan orangnya masih hanya bisa membiakkan ubi. Eksotis, jika diminta menerangkan Bali dalam satu kata, mungkin hanya kata kekinian itu yang sanggup menggambarkannya.

Namun kemudian kabar saya terima dari kawan disana, kabar yang cukup lama telah disampaikan sebenarnya. Tentang Gadis Indonesia yang diperkosa. Ya, Bali telah tengah diperkosa oleh ayahnya sendiri, ayah yang selama ini memberinya nafkah, ayahnya yang bernama Pariwisata.

Pariwisata yang membuat Bali berjaya, dia yang mengundang dewa-dewi pirang itu datang dan menghabiskan uang. Tapi memang sudah sepatutnya lembaran-lembaran itu mereka berikan. Di negerinya dimana dongeng uang terasa nyata, mereka tak jumpa seperti yang kita punya. Jadi, tak perlu lah kemudian kita membudaki diri menjilati pantat-pantat merah udang matang.

Dan yang menyentil adalah terus menerus dibangunnya resort demi memuaskan nafsu dewa-dewi. Sepadan pantai diperkecil, radius suci peribadatan dipersempit. Alih-alih mengakali, tinggi bangunan lain tetap tak boleh melebihi tinggi bangunan peribadatan. Hey, haruskah seperti itu?. Ada orang –orang yang berwisata untuk mencari pengalaman  baru yang tak mereka jumpai ditempat asalnya, mereka bukan melulu mencari kenyamanan, tak bisakah memanfaatkan itu?, dan kenapa harus terus membangun resort sementara lahan yang ada telah habis, tak bisakah dibuat intensifikasi pariwisata?. Dan bukankah sistim pengairan SUBAK adalah penerapan dari konsep intensifikasi, dibidang pertanian. Bahkan tanah berundak-undak itupun sudah bisa sangat menjual. Tunggu sampai nanti ada gempa diselatan Bali kemudian pusat pelesir mewah itu tersapu tsunami, “ah tenang, kami masih punya sistim yang bernama mitigasi, yang baru akan diterapkan nanti pasca bencana”, ya, biarkan saja dewa-dewi itu mati.

Ada tiga motivasi pariwisata, yang pertama Allosentris kemudian Mid-sentris lalu Psycosentris. Meski hasilnya adalah pundi-pundi bagi penyelenggaranya, tapi tak ada teori yang pernah menyebut motivasi awal pariwisata adalah kapitalis. Mengembangkan ketiga motivasi tadi pastinya akan lebih baik ketimbang hanya memamerkan lingga yang seolah perkasa penuh kuasa.

Ironi pulau surga..

Diperkosa ayah tercinta..

Digagahi mereka para dewa..

Ditangisi ibu yang hanya mampu teteskan airmata..

Hingga nanti tenggelamkan si jelita…

Iklan
Categories: tulislepasbebas | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: