Meru Babu (Story of Pras)

“Ah sial!”, “ini pasti karna ku tak bisa tidur semalaman”, Pras mengumpat didalam hati karna tubuhnya yang ia rasa tak karu-karuan. Ia mencoba sedikit melemaskan otot-otot pundaknya yang terasa kaku. Semalam memang ia rasa seperti digoda, namun entah godaan yang macam apa, yang jelas ia jadi sulit tidur karnanya. Dan kini itu berakibat pada menurunnya kondisi fisik pendaki ini. Matanya yang tipis menjadi bingkai mulutnya yang meringis, “ah, dasar babu genit”, masih katanya dalam hati.

Empat srikandi telah siap kembali masuk hutan amerta, dengan busur dan anak panah yang juga sudah terikat dipanggulannya, dan matahari sudah benar-benar bengis, Pras masih hanya meringis. Kuperintahkan srikandi-srikandi itu untuk ambil langkah didepan kami. Nura lugu-miris menatap Pras yang meringis, ditatapannya terbersit doa.

Waktu berlalu, telah lewat pukul satu, Pras melaju dengan tubuh yang masih kuyu, tujuannya tanah lapang ballroom dansa. Tapi…kemana mereka?, ah pasti saking semangatnya kini mereka benar-benar tak terhenti.

Waktu-waktu seperti ini yang telah lama tak dijumpai Pras, saat-saat yang ajaib, dan bagi para pelukis cahaya ini momen yang paling mereka tunggu, seperti anak yang telah lama merindu sosok ibu. Kemudian mata Pras tertuju pada srikandi-srikandi yang tengah menari-nari di ‘air-mancur’ cahaya, ah itu mereka, lalu matanya yang liar tertuju kearah Nura yang sedang melakukan pensyukuran keindahan. Lalu didalam dinginnya hawa ia sunggingkan sebaris senyum, kedigdayaannya sebagai manusia terlucuti oleh indahnya pemandangan berbalut belaian lembut dinginnya angin. Berkali-kali Pras hanya mampu sunggingkan senyum. Ia memang telah rindu ingin lihat lukisan yang seperti ini pagi.

Tak lama berada di negri diawan itu Pras kemudian menyadari bahwa mereka tidak sendiri, ada sosok-sosok lain yang juga tengah menikmati keindahan, sosok-sosok yang datang dari negri dongeng dibawah sana. Tapi mereka bukan kosmonot-kosmonot rusia yang mengangkasa dengan sputniknya, mereka hanya penghuni negri dongeng yang telah berhasil memanjat pohon kacang yang tak sengaja mereka tanam dihalaman rumahnya. Dan kini pohon kacang itu telah mambawa mereka mengetahui ada apa sebenarnya dibalik awan-awan yang mereka tau hanya bisa menumpahkan hujan, ternyata dibalik hujan ada keindahan.

Kemudian Pras berpindah ketempat tinggi lainnya. Memang ajaib tempat ini, setelah penghuni negri dongeng yang berhasil memanjat pohon kacang, kini yang ia jumpai adalah penyihir-penyihir yang seperti tersesat karna salah memilih peron keberangkatan kreta ketika sekolah sihir akan memulai ajaran barunya, sapu-sapu terbang pun tak mereka bawa. Bercengkrama Pras dengan penyihir-penyihir itu, dan nampaknya mereka bukan tersesat, justru mereka ada disana karna sengaja, sengaja ingin berpose dengan jubah kebesarannya yang memang nampak kebesaran.

Meningginya matahari menjadi tanda bahwa perayaan ini harus segera diakhiri. Sekali lagi Pras memastikan bahwa lesung yang banyak orang bilang ada sembilan itu ternyata jumlahnya tak lebih darilima. Dengan tapak kaki yang mulai goyah dan tubuh yang melemah Pras menggelinding turun, kembali ketempatnya digoda semalaman, pusat komando luar angkasa.

Tujuan telah terlihat dari tanah lapang ini, bangunan yang serupa pusat komando luar angkasa. Jalur yang akan dilalui menuju kesana pun bagai landasan ulang alik yang bisa langsung melontarkan sputnik ke bulan, mengetahui itu Pras hanya asik menyucup air isotonik obat kelelahan.

Sementara yang lainnya telah tinggalkan tanah lapang, Pras masih terduduk meletakkan lelahnya, ia lebih suka menyusul, ia bagai penyapu jika ada bala-bala yang jatuh dari mereka yang berjalan didepannya. Ia kini tengah menikmati belaian angin yang menari-nari di ballroom dansa. Bagai belaian lembut sang kekasih kepada pecintanya, halus dan mulai membius. Kemudian dalam visinya Pras mulai melihat bayang-bayang sputnik juga, satelit pertama yang mengangkasa yang berbentuk seperti organisme yang berenang-mengambang di zona pelagik samudera, seperti plankton sputnik memang juga pengembara. Dan diujung sana pandangan Pras tertuju pada menara tinggi pembelah awan, sempat terlintas dipikiran menara itu adalah buatan Soviet yang masih digunakan untuk mengendalikan sputnik secara diam-diam. Hah konyol, pesta sang angin di ballroom dansa ini telah membuat sang sinyo berpikiran tolol, mungkin karna baru saja ia teguk se-sloki minuman pembuka pesta yang ditawarkan sang angin. Tak lama ia sadar kalau ia sudah seharusnya kembali menyusul.

Satu-satu dengan langkah yang mulai lelah Pras menapaki otot-otot bahu sang gagah. Disimpannya segala ingatan tentang gunung-gunung yang pernah ia daki, semua sama tapi juga berbeda. Amel yang berbalut ungu dengan muka yang telah kuyu tersusul oleh langkah Pras yang lamat-lamat menyembul, ambil satu kali lagi istirahat dan menara tergapai cepat. Dari atas sini jelas terlihat bagaimana kabut perlahan-lahan merangkak.

Bunker persembunyian, diatasnya Pras melepas lelahnya. Ia menari, membalas apa yang tak sempat ia lakukan di ballroom tadi, Bimbi menemani. Nura hanya bergidik menyadari tingginya tempat ini, tempat yang jadi stasiun pengendali sputnik. Satu-dua langkah diperagakan Pras menirukan tarian khas pulau K.

Langit kemudian telah berubah menghitam dan hangat telah meninggalkan perapian, menyisakan sedikit jelaga yang masih menyala. Adayang aneh mulai dirasakan Pras didalam bunker, rasa akibat kuatnya intuisi. Seperti udara yang hanya berputar-putar diruangan yang hanya punya dua ventilasi, dan yang berputar-putar itu kini menyebabkan seperti mereka tidak hanya berenam didalam situ, ada yang lain, sang babu genit.

Tak lama setelah pikiran aneh menghantuinya, Pras kemudian benar-benar dikejutkan oleh pintu bunker yang tiba-tiba terbuka. Cepat kubantu ia merapikan tempat agar dapat berbagi dengan tamu baru bunker ini. Mereka berempat, yang membuat ini kemudian tidak hanya diisi oleh kami berenam, ya memang bukan hanya kami berenam. Dan kantuk telah bergelayut dipelupuk, mata Pras kemudian terpejam dengan pintu bunker di hadapan.

“Jam berapa ini?!”, Tanya Pras yang seketika terbelalak padahal malam baru saja lewat setengah. Ia pejamkan kembali matanya yang seperti telah terlanjur terganjal korek api. “Biarkan aku tidur!”, makinya kepada yang telah mengganjal matanya dengan korek api. Jika tidur bisa dibeli mungkin ia akan membelinya malam itu juga, dingin juga telah merajam sementara matanya tak kunjung lagi memejam. “Pergi kau babu genit!”, Pras mengumpat lagi dalam hati, ia sedang tak ingin diganggu, tidur yang ia butuh saat itu. Mencoba lagi ia merebahkan lelahnya.

Suara yang tak begitu merdu membangunkan Pras dari tidurnya yang terantuk-antuk semalaman, tidur yang memang tak nyaman. Berkali-kali ia terbangun lalu coba pejamkan mata lagi. Sekarang tidur itu kini telah harus disudahi, petualangannya akan benar-benar segera dimulai.

Setelah semalam Pras masih berada dikota metropolutan, berbincang dari utara ke selatan dengan si tua distasiun tua, kini ia telah berada disebuahkotayang punya kenangan juga untuknya, sebuahkotapelabuhan yang mereka sebutkotaS. Tak lama, hanya habiskan sarapan kemudian lanjutkan perjalanan. Ia dan empat orang srikandi juga aku akan bertualang menjelajahi gunung, gunung yang mereka sebut meru. Pasar sapi diperempatan jalan, pintu masuk sebuah wahana wisata alam, sampai pos pendakian yang dinamai karna jalurnya buntu, Pras gapai beserta kawan-kawannya hanya dalam setengah siang. Kabut tipis menyelimuti pos yang bertuliskan manggala diatas pintunya kala itu, kemudian hujan pun turun membasahi tanah yang akan dilaluinya nanti. Sambil menunggu hujan mereda, Pras pun menyiapkan segala.

Jalan benar memang agak basah, tapi tanah masih bisa menyerap air yang baru saja tumpah. Pras dibelakang kawan-kawannya yang menyisir punggung gunung. Suara nyanyian Bimbi menghibur Pras yang mulai merasa sepi. Tajuk-tajuk pepohonan kanopi membuat matahari yang baru saja bercinta dengan kabut pekat semakin tak terlihat, hingga hilang seluruh hangat dari sang matahari. Perjalanan terus mereka lanjutkan hingga benar-benar berakhirnya senja.

Tanah berundak ditengah perdu-perdu yang setengah tegak, diceruk undakan Pras mencoba nyalakan perapian. Kubantu ia sementara Vina sibuk dengan hidangannya, dengan hidangan itu ditambah perapian pasti akan lebih hangat ini malam. Namun perapian kami tak berhasil, tapi yang penting iglo telah berdiri meski kecil. Ditanah berundak ini Pras istirahatkan tubuhnya, merebah dan tak lagi terantuk-antuk, bekal untuk perjalanan esok yang terjal. Tubuh-tubuh kecil yang menggigil itu kemudian benar-benar terlelap diruangan yang juga kecil.

tit..tut..tit..tut..

Bunyi selular yang khas membangunkan Pras dari tidurnya diruangan kecil dengan kasur yang mengampar dipojokan. Sedikit sakit kepalanya entah karna apa. Ruang 2×3 meter itu masih berantakan, tak jauh berbeda seperti ketika ia tinggalkan beberapa hari lalu. Ya, itu kamar kos laki-laki, maklum jika memang tidak rapi. Hangat mentari tak lekas buat Pras bergegas, empuknya peraduan sungguh melenakan.

Siang itu Pras ada janji, janji yang kemudian malah membawanya kesebuah stasiun mencari sesosok pesulap kecil. Hangatnya mentari pagi tadi ternyata hanya kamuflase alam, nyatanya siang itu ia menyusuri stasiun dengan pinggiran yang agak licin karna baru saja diguyur hujan. Matanya mencari-cari, dikerumunan ia berupaya tak jadi perhatian, bagai rubah mencari mangsa.

“ada?”

“ga ada, hilang dimakan ular sudah dia”

Tanyanya kepadaku yang kala itu menemani, sang pesulap telah benar-benar hilang seusai pertunjukan, seperti Houdini si cilik telah sempurna mempelajari dan memahami apa itu escapology.

Kemudian tak berapa lama Pras kembali lagi ke stasiun itu, kini yang ia  sosok-sosok yang tak sama seperti yang ia lihat ketika mencari pesulap kecil tadi. Dipunggungnya kini juga telah tersangkut ransel penuh perbekalan, ia akan melakukan perjalanan.

Dari stasiun licin yang baru saja diguyur hujan Pras memulai petualangan…

“am I strong enough to walk on the water, smart enough to comin’ out of the rain, or am I a fool going where the wind blows?” going where the wind blows, oleh : Mr. Big

Iklan
Categories: prosa | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: