meru babu, (story of bimbi)

Hmmm…sudah lama sepertinya tak membaui tanah basah diguyur hujan seperti ini. Ditengah ramainya orang bicara tentang apa saja, yang terdengar sepertinya malah hanya ricik air yang mulai habis menitik. Seorang anak yang nampak tak bertuan berteduh ditengah riuh ramainya kesibukan kala itu. Tak sedikitpun curiga menghinggapi tubuhnya, terlihat hanya dingin dengan koran didekapan, sampai hujan pun reda.

“kak, liat handphone ku ga??”

“ga bi, memangnya ditaruh dimana tadi?”

“disini..sengaja ditaruh begitu aja sih”

Percakapan yang kemudian menyadarkan semua orang bahwa baru saja  keberadaan telah membuat sebuah ketiadaan, begitu cepat, seperti hujan yang baru saja terjadi. Ini akhir bulan juni dan menurut lembaga meteorologi semestinya tak ada hujan dibulan ini, ya tapi lembaga itu bukan Tuhan. Jika Tuhan sudah turun tangan apa arti semua ilmu manusia yang bagai setetes air dilautan. Tapi…secepat apakah tangan Tuhan itu? Apakah Ia lebih cepat dari tangan anak tak bertuan yang telah menyebabkan ketiadaan barusan?. Kemudian disimpan hatinya yang kesal karna telah raib telepon genggamnya, alat komunikasi yang kan menghubungkannya dengan orangtua dipulau K. Bimbi hanya membungkus rasa kesal itu dengan selimut kesabaran dari sisa dinginnya hujan. Dan tak ada yang lebih sabar dari hujan bulan Juni.

Setelah datang penampakan serupa pangeran ngak-ngek-ngok melepas keberangkatan, Bimbi seperti lupa akan telepon genggamnya. Meski karna itu ia terpaksa tinggalkan seperangkat alat bantu dengar andalannya yang biasa ia gunakan untuk berdansa ria, ia memang periang. Sedikit salam perpisahan ia ucapkan sebelum akhirnya ia lenyap dibawa ular besi menuju entah apa namanya, bersama-sama lima kawannya, termasuk aku.

Stasiun tua, didekatnya dahulu biasa bersenda para pujangga, menertawakan mirisnya negri yang baru merdeka. Atau kebelakang lagi, ini adalah tempat mereka yang berjuang merencanakan sabotase kreta-kreta Kompeni. Kini? Hanya seorang tua penderita schizopreni yang ditemui Pras, kutemaninya menunggui yang lain mengisi perut, dan sang schizopreni bercerita, Pras acuh namun diperhatikan juga.

“Saya kesini mencari adik yang tinggal didekat pelabuhan”, “baru tiga hari saya sampai dari kota Rebon, menumpang kreta dengan hanya membayar sepuluh saja”, “kepala saya sakit, tapi tadi sudah minum obat”, aku ikut acuh tapi mendengarkan monolog si tua itu. Tak berapa lama opas stasiun menggoda si tua, ah..mungkin itu ditujukan kepada kami juga, kemudian sang tua lanjut lagi dengan ceritanya. “Dulu bung Hatta sering saya lihat disekitar sini”, “oh ya? Apa bapak juga pernah melihat Ali Sadikin?”, Pras mulai tertarik atau mungkin menyadari ada yang salah dengan isi kepala orang tua ini. Berteman dua cangkir kopi pesanan kami masih acuh tak acuh mendengarkan sang tua bercerita, sampai waktu kreta tiba.

Dari senen kami tinggalkan metropolutan di hari selasa itu, kembali ditelan ular besi menuju entah apa namanya, yang jelas nanti ketika ular ini telah lelah meliukkan tubuhnya kami pasti akan dimuntahkannya kembali. Setelah mengatur tempat agar nyaman selama berada dilambungnya, kamipun membiarkan tubuh-tubuh kuyu ini dicerna habis oleh asam lambung sang ular.

Muntah sudah, berhamburan keluar isi perut sang ular. Ini dimana? Bimbi mencoba meyakinkan dimana ia sekarang, masih sayu ia terbius asam semalaman. Tapi tak lama mata Bimbi telah memicing dibidikan, mengabadikan tempat yang menurutnya cukup baru dari pandangan. Tukang becak, bangunan bergaya eropa pertengahan, angkutan kota yang tak seperti biasa ia lihat ditempatnya akhir-akhir ini tinggal, penjaja makanan pinggir jalan. Dan kawannya yang lain ternyata telah tengah asik menyantap sarapan ala kota S itu. Bimbi pun kemudian tak tahan juga, memang hanya asam sang ular besi saja yang bisa mengoyak-ngoyaknya semalam?, asam dalam lambungnya sendiripun telah berhasil membuat cacing-cacing didalamnya berjingkrak-jingkrak.

Kemudian seperti mimpi, Bimbi akhirnya meninggalkan kota yang sempat menjadi catatan dalam protosejarah negri ini, kota pelabuhan yang sempat disinggahi panglima laut hebat dari Cina, bukan Tian Feng,Tjeng Ho namanya. Tengah hari Bimbi tiba-tiba telah berada dipinggir sebuah persimpangan, ditempat orang biasa melakukan aktifitas dagang sapi. Lalu ia seperti terbius lagi.

Kini arum manis putih tipis yang dingin menyelimuti udara ketika Bimbi keluar melihat sekitar, dimana lagi ini?. Ada dokar, kuda-kuda besi yang berjajar, dan ia lihat aku dan sahabatnya Vina sedang tawar-menawar. Bimbi merasa sudah bisa mencium sedikit aroma yang ia suka, aroma hutan, bau petualangan. Ia telah berada dikaki sang gagah yang merupakan kembaran dari sang gagah lainnya, yang mana kembarannya itu kini telah berubah serupa yoni. Dan semua temali telah terikat rapi.

Hutan-hutan pinus dengan hidu yang membius, jalan berbatu yang sesekali menggoyangkan laju, namun itu hanya sesaat, sesaat lalu Bimbi kembali dibuat bertanya. Sebuah bangunan berdiri diselatan perkuburan, diatas pintunya bertuliskan manggala, tempat apa ini?. Menyongsong penuh kehangatan seorang lelaki paruh baya berkaca mata, mungkin ia lah sang empu dari bangunan bertuliskan manggala itu. Disambutnya kami penuh keramahan khas negri ini.

Didalam bangunan telah ada empat petualang yang siap menggagahi sang gagah, bersapa kemudian kami dengan mereka yang tengah asik dengan peralatan dari ranselnya. Bimbi tak kalah dengan tasnya yang merah. Penuh, dan akan jadi sumber peluh. Kemudian arum manis putih tipis yang dingin keluarkan saripatinya, seperti handuk yang tercebur kemudian diperas. Empat sekawan tak peduli diluar hujan, mereka terburu nampaknya dikejar waktu, kami berenam hanya bisa ucap hati-hati dijalan, berhenti hujan kami akan meniti ikuti jejak kalian.

Kabut tipis masih menyelimuti, namun keinginan Bimbi tak dapat ditunda lagi. Tujuannya, tujuan mereka, tujuan kami, terutama Bimbi, bukanlah menggagahi. Ia hanya ingin menuju ketinggian diujung sana, kemudian melihat keindahan yang entah apa namanya, dengan mata terbuka dan paru yang menghembus lega.

Tanah tinggi tempat bersemayamnya batu-batu serupa lesung penumbuk padi, yang konon adalah peninggalan sang wali yang jadi tujuan Bimbi dan lima kawannya. Meski mendaki, meski berliku, meski sedingin belati angin menusuk tulangnya, Bimbi tak terhenti. Ia telah benar-benar lupa, kumpulan lagu-lagu yang biasa ia dengar di telepon genggamnya kini seperti berpindah dari kartu penyimpanan ke otaknya, mulutnya yang kini jadi pengeras suara. Memecah heningnya rimba, ia bagai ali topan, atau buku tulis baru ketika kita mulai ajaran baru, tapi yang belum disampuli kertas kopi, hanya sampul dasar yang warna-warni.

Kembali seperti mimpi Bimbi tiba-tiba telah dibutakan selepas senja. Jejak-jejak empat sekawan yang ia ikuti tiba-tiba tak terlihat karna matahari yang telah mulai meremang. Perjalanan tak lama lagi harus dihentikan, ketika malam sang gagah ini akan meniadakan siapa saja yang masih berkeliaran. Ada cerita bahwa di satu sudut sang kerucut dibuka pasar dikala malam. Berbagai transaksi dilakukan seperti sedianya pasar, ada yang berjualan makanan, pakaian, dan berbagai macam kebutuhan lainnya. Tapi tentulah janggal ada pasar ditengah hutan di kala malam. Konon pernah ada yang berbelanja disana, semangkuk bakso, tak lama setelah ia melahapnya ia baru menyadari bahwa yang ia makan adalah ibu jari manusia. Tapi Bimbi tak peduli karna tak mengetahui, yang ia tahu hanya bintang-bintang kini bertaburan diangkasa, menemaninya dan Vina yang tengah asik menyiapkan hidangan. Dan istana telah juga megah berdiri ditengah rerimbun belukar. Kemudian mereka benar-benar terbius mimpi, mimpi kerlap-kerlip diselingi sesekali gerimis yang merintik.

Pagi menyambut segumpalan kabut yang naik dari lembah-lembah sang gagah. Tanpa sadar kini teritori istana telah dirambah, ada istana kerajaan lain didepan istana Bimbi dan kawan-kawannya. Mereka mengendap dikala malam, bergerilya seperti pejuang ingin hancurkan penjajah. Tapi sedianya mereka hanyalah penjelajah lain yang kemalaman, memanfaatkan lahan kosong didekat tenda Bimbi. Enam sekawan kini kembali mendapatkan kolega, tapi seperti sebelumnya, serombongan penjelajah ini nampak terburu dikejar waktu, ada si gagah lain yang menunggu untuk didaki kata mereka. Bimbi kembali hanya ucapkan perpisahan, ia kembali hanya berenam.

Matahari semakin mendaki, sepertinya Bimbi juga tak boleh kalah dengan itu matahari, dan segera semuanya ia siapkan. Memimpin ia didepan diikuti Amel yang masih sayu. Kembali tapak kakinya menghujam-hujam tanah yang nampak masih agak basah. Disela rimbun hutan ia rasa ada yang memerhatikan sejak awal mula perjalanannya tadi, mata-mata sang babu, yang memantau sinyo-sinyo priyayi kota yang tengah asik memanggul beban dipundaknya. Tak peduli, Bimbi hanya asik dengan nyanyian kekotaan, sementara sindenan babu terlantun bak mantra mistis dalam desiran angin.

Tanah lapang terhampar sekeluar Bimbi dari rerimbunan, bagai ballroom dansa bagi sang angin. Disana mereka menari, berputar, menyodorkan ajakan dansa kepada rumput-rumput yang tak begitu tinggi juga, lalu meliukkan tubuh-tubuh ramping nan mungil tepat diatas akar-akarnya. Bahu sang gagah yang kekar yang mendongakkan kepala Bimbi, bahu yang serupa landasan ulang alik yang akan mengantarkannya mengangkasa. Ia bidik kawannya yang tengah mulai lelah, Nura, sambil meneguk air ia tersenyum kearah Bimbi.

Pesta dansa sang angin harus segera ditinggalkan sepertinya, Bimbi punya pestanya sendiri, nanti. Kemudian tanah telah berubah menghitam yang tadinya coklat, bercampur batu-batu kerikil yang sempat sedikit buat tumit tergelincir. Apa yang jadi tujuan Bimbi sekarang hanyalah pusat komando luar angkasa yang ada diujung bahu sang gagah yang sedang ia tapaki ini, yang ketika sampai disana yang ia temui adalah sepasang kosmonot yang nampak lunglai menatap nanar. Bimbi menyapa, logat mereka benar-benar seperti kosmonot yang lahir dari pedalaman Siberia. Salah satunya mempersilakan menggunakan bunker yang berada tepat dibawah menara pengawas, takut-takut nanti ada serangan badai matahari yang panas. Ah, tapi ini bukan benar-benar pusat komando luar angkasa, hanya bangunan yang berusia hampir belasan tahun yang memiliki menara tinggi yang nampak berfungsi sebagai menara pengawas dan relay dari gelombang-gelombang radio atau televisi. Biasa memang bangunan ini digunakan untuk beristirahat para penjelajah yang lelah, dan kemudian Bimbi mencoba menaiki atapnya yang rata oleh semen hasil adukan. Wow, terbayar sedikit lelahnya.

Telah diputuskan bahwa Bimbi dan kawan-kawan baru akan melanjutkan perjalanan dini hari nanti. Tujuannya adalah mengintip menyembulnya matahari diujung tempat tertinggi. Membunuh waktu lewati senjanya Bimbi pilih bermain dengan awan saja, sampai awan-awan itu benar-benar membungkusnya dalam dingin.

Brak..brak..brak…!!!

Hari telah gelap dan pintu bunker tempat Bimbi bersemayam diketuk namun terdengar seperti didobrak. Ini invasi!!, makhluk asing, kita di invasi!!, itu yang konyol terlintas dipikiran Bimbi sebelum empat pemuda masuk kedalam memberikan senyum dan salam dari bibir yang telah beku kedinginan. Tapi Bimbi sudah terlalu terbius oleh imaji tentang sebuah invasi. Ia kini menggenggam pedang elektromagnetik didepan kawan-kawannya yang ketakutan. Ia siap menghujam pedang itu ketubuh makhluk asing yang lebih nampak seperti serangga berdiri, gambaran yang ia punya tentang makhluk luar angkasa hasil cetakan televisi. Dan kemudian serangga-serangga berdiri itu seketika berubah jadi kepompong sebelum Bimbi keluarkan kemampuannya, seonggok kepompong lemah yang berdenyut-denyut tak berdaya. Melihat itu Bimbi mematikan pedang elektromagnetnya, iba. Hingga rangkaian kontelasi dilangit satu-satu silih berganti.

Malam telah berubah, bulan yang mati membuat jelas bagaimana lyra memandu kejora. Kemudian sang bintang timur menghembuskan aroma segar kopi ke hidung matahari yang masih tertidur. Bimbi pun telah tiba disebuah persimpangan jalan menuju dua keindahan ketika itu. Segera ia memilih jalan menuju ujung sebuah ketinggian. Tujuan yang ia cari bukan lagi telepon genggam yang mungkin telah jadi beberapa bungkus nasi, Bimbi ingin lihat lukisan Tuhan.

Warna-warna lambat menjelma, dan bahwa hitam adalah awal dari keindahan. Ungu, nila, biru, Bimbi mengamati bahwa me-ji-ku-hi-bi-ni-u yang ia tau akan lebih cantik jika susunannya dibalik, unibihikujime. Ketika gelap menuntun terang, sebuah proses pasti terjadi, dan yang indah bukan ketika terang itu telah berhasil menyilaukan mata, indah adalah menjelmanya warna-warna, dan indah adalah proses menggradasi.

Bimbi tertegun, kemudian tersenyum, lalu menyeringai. Pesta batinnya baru saja dimulai.

“pagi jangan pergi, kutakut malam nanti kumasih sendiri dan pagimu tak lagi indah”… Pagi, oleh : Dialog Dinihari

Iklan
Categories: prosa | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: